Kebenaran Tertinggi dari "Berdana"
Seorang siswa bertanya pada saya, "Apakah kebenaran tertinggi dari berdana?"
Saya berkata, "Tunda dulu pembicaraan tentang kebenaran tertinggi! Karena kebenaran tertinggi itu sulit dipahami oleh orang biasa."
Saya beberkan dulu tentang "berdana" pada Anda semua:
"SUTRA ARYA-MOHA NIDANA" (Xianyu Yinyuan Jing) mencatat: Di Sravasti terdapat seorang wanita miskin yang hidup lewat mengemis, saat itu, semua raja dan bangsawan memberikan persembahan kepada Sang Buddha. Wanita miskin itu berpikir, karma buruk saya berat, saya miskin dan hina, tidak ada benda yang bisa saya persembahkan kepada Sang Buddha. Sehingga ia sangat malu. Wanita miskin mengemis berhari-hari, yang didapatkannya hanya sepeser uang, lalu dibeli minyak, kemudian ia pun pergi ke arama Sang Buddha dan mempersembahkannya kepada Sang Buddha. Minyak ditaruh di tengah pelita, lalu berikrar, "Karena kini saya miskin, saya hanya mempersembahkan sebuah pelita kecil kepada Sang Buddha, semoga jasa pahala ini membuat saya memperoleh mahaprajna dalam kehidupan yang akan datang untuk membasmi semua kekotoran dan kegelapan para insan."
Seberkas angin bertiup.
Semua pelita menjadi padam.
Hanya pelita kecil ini yang tidak padam.
Begitu Y.A. Moggalana melihatnya, Ia pun mengipas pelita kecil ini dengan tangan, tak disangka pelita ini tidak bisa padam, Y.A. Moggalana pun bertanya pada Sang Buddha.
Sang Buddha bersabda, "Pelita kecil ini tidak dapat Anda padamkan, ini adalah benda yang didanakan oleh orang yang membangkitkan niat agung."
Belakangan, si wanita miskin pun menjadi bhiksuni, Sang Buddha memberikan vyakrana (meramalkan kebuddhaan) si wanita miskin, "Kelak Anda akan mencapai kebuddhaan dengan nama Buddha Alokaprabha (Dengguang Fo)."
*
Dari "sebuah pelita si wanita miskin", kita bisa tahu bahwa:
Esensi dari berdana adalah orang yang membangkitkan niat agung.
Esensi dari berdana adalah mengorbankan diri Anda sendiri.
Esensi dari berdana adalah semaksimal tenaga dan pikiran.
Kita seharusnya tahu:
Ada orang yang memiliki banyak, tapi yang diberikan sedikit sekali, malah yang sedikit ini pun dilakukan demi mendapatkan reputasi duniawi, ini adalah perbuatan yang berpamrih, menunjukkan berdana yang picik, lebih menunjukkan niat mendambakan reputasi.
Berdana dengan mendambakan "reputasi", di dalamnya telah tersimpan hasrat, sehingga menjadi kurang terbuka dan jujur.
Saya berkata:
Mengorbankan diri sendiri, inilah berdana yang sesungguhnya.
Mengorbankan jiwa sendiri secara royal, dan jiwa ini tidak akan terkuras secara sia-sia.
Berkorban dengan sukacita yang luar biasa, tidak memperhitungkan imbalan, tidak memperhitungkan reputasi, inilah berdana yang sesungguhnya.
Berkorban bukan menderita.
Berkorban bukan perhitungan.
Berkorban bukan dengan maksud menjalankan kebajikan, karena selama ada maksud menjalankan kebajikan, maksud ini tidaklah benar.
Berkorban ibarat keharuman bunga, berada di tengah udara.
Berkorban ibarat matahari, memberikan terang pada bumi.
Berkorban ibarat hujan, membasahi tanah yang kering.
Berkorban bukan memilih objek, memilih waktu, memilih tempat.
Berkorban bukan untuk disyukuri orang lain.
Berkorban bukan untuk disebarluaskan.
*
Terus terang saya katakan kepada Anda semua, benda apa lagi yang tidak ingin Anda korbankan, Anda mengira Anda memiliki. Namun, saya beritahu Anda, pada suatu hari nanti, Anda akan kehilangan segalanya.
Jadi, mumpung Anda masih dapat berkorban, berkorbanlah! Karena cepat atau lambat harus dikorbankan.
Pada hakikatnya, "Kebenaran Tertinggi" adalah:
Tiada subjek yang berdana.
Tiada objek yang menerima dana.
Juga tiada benda yang didanakan.
Silahkan renungkan ketiga kalimat ini, bila sudah mengerti, sudah saatnya Anda mendekati pencerahan.
Menyingkirkan Rintangan dalam Bersadhana
Setiap hari menekuni "empat kali sadhana" berdasarkan "Kye-rim atau Tahap Permulaan". Namun, setelah menekuni sebulan, setahun, atau empat tahun, sepuluh tahun, tak disangka bahkan seberkas bayangan kontak yoga pun tidak ada, tidak merasakan pahala apapun.
Ini berarti "sebab" telah ada, namun, dengan adanya "rintangan" menandakan belum "berjodoh", makanya tidak dapat membuahkan hasil.
Ada 6 jenis rintangan yang saya kenali:
1. Melanggar sila -- melanggar Sila Samaya.
2. Setan dan Mara -- rintangan yang ditimbulkan oleh setan dan Mara.
3. Teman menyesatkan -- berteman dengan orang menyesatkan.
4. Pola makan – pola makan yang bertentangan dengan ikrar.
5. Tidak bersih -- mandala dan jasmani tidak bersih.
6. Kerasukan setan -- kerasukan setan orang yang meninggal dunia.
Sebenarnya keenam jenis rintangan ini akan ditunjukkan lewat pertanda mimpi, dengan adanya pertanda mimpi, seharusnya mengerti bahwa ada "rintangan"!
Jika bermimpi dibentak-bentak oleh acarya, ditinggalkan oleh acarya, acarya marah, acarya menatap dengan pandangan murka. Bermimpi diri sendiri jatuh ke air, jatuh ke jurang, dan lain-lain, ini berarti melanggar Sila Samaya.
Jika bermimpi tanah longsor, bumi retak, rumah ambruk, air bah, matahari dan bulan jatuh dari langit, ini berarti diganggu oleh setan dan Mara.
Jika bermimpi dari tubuh keluar caplak, kutu, ulat, tubuh dikerubuti oleh serangga, diikat oleh pakaian yang dikenakan, dikejar teman, dan lain-lain, ini berarti diri Anda terlibat dengan teman yang melanggar sila.
Jika bermimpi makan abu, makan serangga, makan air seni, makan kotoran, makan lalat, ini berarti rintangan dalam hal pola makan.
Jika bermimpi rumah kediaman Anda bagaikan tumpukan sampah, rumah kediaman Anda berbau busuk, rumah kediaman Anda dipenuhi oleh benda-benda kotor, bermimpi tubuh Anda dekil, dijerat benda kotor, ini berarti mandala dan jasmani tidak bersih.
Jika bermimpi setan mengejar sadhaka, setan menyemburkan api membakar sadhaka, setan memegang pisau memenggal sadhaka, ini semua adalah pertanda mimpi dari kerasukan setan.
Dengan adanya "rintangan" demikian, bersadhana dengan sendirinya tidak akan mengalami kontak yoga, juga tidak merasakan pahala.
Yang lebih parahnya adalah:
1. Nyawa melayang.
2. Lahir dan batin didera penyakit.
3. Tidak ada kekuatan samadhi.
4. Tidak ada jodoh dengan sesama.
5. Tubuh lemah dan prana terpencar.
6. Murung.
Saya pribadi pernah memaparkan pada saat upacara homa "Kalachakra", ada tiga macam cara untuk menyingkirkan rintangan-rintangan ini.
Pertama, saya mengimbau, sadhaka sebaiknya menerima abhiseka lagi, malah harus 3 kali berturut-turut. Sebenarnya menerima abhiseka adalah cara untuk menyingkirkan rintangan atas pelanggaran sila, setan dan Mara, serta teman yang menyesatkan, apalagi tiga kali abhiseka dari Mulacarya dapat memberantas segala rintangan.
Kedua, saya mengimbau, sadhaka sebaiknya menggelar Trimulapuja, memberi persembahan kepada Buddha, Bodhisattva, Vajra, Dharmapala, dakini, para dewa. Atau sadhaka melakukan homa, membersihkan dengan abu homa, cara ini dapat membersihkan pola makan, mandala, jasmani yang kurang bersih, dan lain sebagainya.
Ketiga, saya mengimbau, sadhaka menggunakan metode berbasuh, cara ini juga dapat menyingkirkan rintangan. Pada hari "Chu", menggunakan bunga putih yang tidak terhingga, setiap kuntum bunga putih dijapa "Mantra Yidam", lalu lempar ke dalam bak mandi, hingga bunga putih mengapung memenuhi bak mandi, kemudian sadhaka berbasuh di dalam bak mandi, cara ini juga bisa menyingkirkan "rintangan".
Pertanda mimpi dari tersingkirnya rintangan:
1. Sadhaka memuntahkan benda-benda kotor.
2. Serangga-serangga merangkak keluar dari dalam tubuh sadhaka.
3. Sadhaka bermimpi berbasuh dan mengenakan busana putih.
4. Sadhaka terbang bagaikan kuda sembrani.
Semua ini adalah pertanda mimpi bahwa "rintangan" telah habis dibasmi!
Menjadi "Manusia" Gampang Tersesat
Seseorang pernah bertanya pada saya, "Beberapa tahun terakhir, menganjurkan dan menjalankan Agama Buddha dunia, dengan kata lain, menjadikan dunia sebagai alam suci, ingin mengamalkan alam suci dunia. Jadi, sewaktu menjelang wafat, semuanya berikrar datang lagi ke dunia manusia, apakah itu benar?"
Saya terdiam lama, tidak sembarangan mengambil kesimpulan.
Saya menunjukkan dua contoh: di Han Timur ada dua orang sadhaka, satu adalah Ma Ming-sheng, satu lagi adalah murid Ma Ming-sheng, Yin Zhang-sheng.
Mereka berdua menekuni "Sutra Pil Dewa Taiqing".
Konon, bila mencapai keberhasilan dalam penekunan, bisa berubah menjadi dewa langit. Namun, ketika berhasil menjadi dewa langit, mereka harus melayani mahadewa langit di surga.
Itu sebabnya, Ma Ming-sheng dan Yin Zhang-sheng tidak ingin menjadi dewa langit, setelah pil jadi, hanya diminum setengah dosis, setengah dosis berarti dewa bumi, bukan dewa langit, dewa bumi lebih bebas, tidak perlu naik ke surga, namun, bisa menjelajahi dunia, bagaikan dewa.
Ma Ming-sheng dan Yin Zhang-sheng ini tidak bersedia naik ke surga menjadi dewa langit, hanya bersedia menjadi dewa bumi menjelajahi dunia.
Ini sangat terkenal di dalam "Legenda Para Dewa" karangan Ge Hong.
Saya pribadi berasumsi bahwa:
Tidak bersedia naik surga.
Lebih baik di dunia.
Ini juga kasus khusus para dewa.
Namun, harap perhatikan, Ma Ming-sheng dan Yin Zhang-sheng adalah dewa bumi yang sudah melewati tahap melatih diri sehingga memiliki "kekuatan samadhi" dan "kekuatan prajna".
Lagipula, sebuah sajak "Shuidiaogetou" karangan Sushi, saya pernah mendengar artis penyanyi menyanyikannya, saya sangat terpesona begitu mendengarnya, berkumandang, syair yang paling terkenal adalah:
明月幾時有?把酒問青天,不知天上宮闕,今夕是何年?
Kapan baru ada bulan purnama? Menanyakan langit dengan arak, entah di istana surga, sekarang tahun berapa?
我欲乘風歸去,又恐瓊樓玉宇,高處不勝寒。起舞弄清影,何似在人間!
Saya ingin berpulang dengan menumpang angin, namun takut istana giok, tempat tinggi terlalu dingin. Menari membuat bayangan yang jernih, bagaikan di dunia manusia!
轉朱閣,低綺戶,照無眠,不應有恨,何事長向別時圓!
Istana mutiara berputar, rumah yang indah, tetap tidak dapat tidur, tidak seharusnya ada kebencian, masalah apa yang menjadi sempurna ketika berpisah!
人有悲歡離合,月有陰晴圓缺,此事古難合,但願人長久,千里共嬋娟。
Manusia ada perpisahan dan pertemuan, bulan ada sabit dan purnama, masalah ini dari dulu sulit untuk sempurna, semoga manusia selalu abadi, ribuan li bersama rembulan.
Semua orang tahu sajak terkenal karangan Sushi ini.
Syair sajak mengatakan:
高處不勝寒。 (Tempat tinggi terlalu dingin)
還不如留在人間。(Lebih baik tinggal di dunia manusia)
Saya tunjukkan kedua contoh ini, ingin menjelaskan, lebih baik ke Sukhavatiloka Barat atau bereinkarnasi menjadi manusia?
Yang pertama: Ma Ming-sheng dan Yin Zhang-sheng adalah sadhaka, telah memiliki kekuatan sila, samadhi, dan prajna, tadinya bisa menjadi dewa langit, namun, tidak menyukai dewa langit, sebaliknya suka dunia manusia, di dunia manusia juga ada nama dewa bumi, tidak kehilangan "samadhi dan prajna".
Saya berasumsi, Ma Ming-sheng dan Yin Zhang-sheng bisa berada di dunia manusia dalam setiap kehidupan.
Yang kedua: maksud saya adalah Su Dong-po, sepengetahuan saya, ia tentu seorang penyair besar yang sangat berbakat, dengan kata lain, Shidu, pejabat tinggi mahasiswa jurusan ganda.
Seumur hidup belajar Dao juga belajar Agama Buddha, namun hasilnya sia-sia di tengah jalan, walaupun memiliki asal usul yang luar biasa, namun, hasil ujiannya, seperti yang ditulisnya sendiri, lebih baik tinggal di dunia manusia.
Sepanjang hidup Su Dong-po, bergelandangan, 66 tahun tutup usia, saya melihatnya tidak mencapai tingkat dewa maupun tingkat Buddha, jika bereinkarnasi lagi menjadi manusia, begitu kehilangan kekuatan samadhi dan prajna, ia hanya bertumimbal lahir di dunia manusia.
Maksud saya, walaupun Su Dong-po adalah pejabat tinggi berbakat besar, namun, bagaimana pun ia tetap orang awam, sungguh tidak cocok bereinkarnasi menjadi manusia.
Dalam Sutra Buddha mengatakan, "Bodhisattva juga bisa tersesat!"
Di dunia manusia ini terlalu banyak "keserakahan, cinta, kebodohan, dan pandangan sesat", untuk menjadi manusia dalam setiap kehidupan, tentu harus dibekali dengan kekuatan "samadhi dan prajna" baru boleh, jika tidak ada kekuatan "samadhi dan prajna", masih lebih baik terlahir di Sukhavatiloka Barat!
Beristrikan Dharmasukha
Lagu Rainbow Villa.
Tarian Rainbow Villa.
Sandiwara Rainbow Villa.
Mala Rainbow Villa.
Pertama-tama saya tidak terlalu terbiasa hari-hari tanpa "siswa yang mengikuti kebaktian", belakangan, saya tahu saya tidak boleh begitu terus, saya harus berjalan dari dunia luar ke dunia dalam.
Saya harus menemukan kebahagiaan saya sendiri di dalam batin atau saya akan mati karena "depresi"!
Dulu, di dalam samadhi saya bisa memperoleh "Dharmasukha", namun, selama menyepi dan bertapa, saya semakin memahami, berikut jawaban yang saya berikan:
"Beristrikan Dharmasukha!"
Pandangan dan pendengaran saya tidak berada pada dunia luar lagi. Melainkan berpusat pada hati sendiri, hati saya telah berubah menjadi sekuntum teratai, di atas teratai, rupanya ada, "Lagu, tarian, sandiwara, dan mala". Keempat kebahagiaan ini bukan kebahagiaan orang awam, melainkan meningkat menjadi semacam Dharmasukha abadi yang "無何有".
"Dharmasukha" semacam ini, saya telah melewati masa pertapaan selama 5 tahun, saya memperoleh semacam pengalaman yang sangat langka, inilah tampang asli seorang pertapa.
Saya berkata:
"Segala sesuatu itu anitya."
"Segala kebahagiaan juga tidak abadi."
"Segala sesuatu akan berlalu."
"Segala-galanya akan musnah."
Namun, ketika saya "beristrikan Dharmasukha", saya baru bisa benar-benar mengerti, Dharmasukha ini barulah istri sejati, jawaban ini terlalu bagus, mengusahakan ke dalam, tidak mengusahakan ke luar, istri sejati tidak berada di luar, melainkan di dalam.
Dunia luar adalah:
Kekerasan.
Kekejaman.
Kejahatan.
Dunia dalam adalah:
Kebahagiaan.
Kesucian.
Tiada tuntutan.
Saya menemukan bahwa kebahagiaan dari luar tidak abadi, hanya kebahagiaan dari dalam yang abadi, apakah yang abadi itu, ternyata "Dharmasukha" barulah abadi.
Saya tidak dapat menahan tawa, manusia di dunia ini benar-benar bodoh, mereka semua mengejar yang bisa lenyap, mengejar sesuatu yang kosong, mengejar sesuatu yang tidak ada, mengejar sesuatu yang sementara, mengejar sesuatu yang sesaat, buta ibarat seekor lalat, atau seekor nyamuk, saya menemukan bahwa semua manusia dunia itu tersesat.
Kebahagiaan semacam ini juga "ilusi mimpi", "bayangan gelembung", "embun pagi", "cahaya kilat".
Saya menemukan bahwa ada beberapa benda yang sangat "kejam", asal tahu saja, kalian jangan terkejut:
1. Uang.
2. Kekuasaan dan kedudukan.
3. Wanita.
4. Rumah.
5. Mobil.
Semua ini bisa membejatkan "jati diri" sadhaka, bisa mencelakai sadhaka untuk "memiliki", "melekat", "untung dan rugi", "menderita", "bahagia".
Saya menyepi dan bertapa, karena saya telah memasuki "samadhi" yang sejati, saya baru tahu "Dharmasukha" barulah kebahagiaan abadi, "Dharmasukha" barulah istri yang abadi.
Acarya, lama, umat se-Dharma. .........
Mengertikah Anda? Dharmasukha barulah kebahagiaan tertinggi!
ORANG SOMBONG
Ia telah mencapai "Dao" dalam melatih diri.
Ada satu orang lagi, marganya Nanrong, nama tunggalnya Chu, sehingga dipanggil Nanrong Chu, ia tahu bahwa Gengsang Chu mencapai Dao, lalu datang karena kagum akan kemasyhurannya dengan harapan semoga Gengsang Chu mewariskan "Dao" dan berguru pada Gengsang Chu.
Namun, begitu sang guru melihat murid ini.
Sang Guru lantas menolaknya.
Karena murid ini memiliki watak pemberontak.
Gengsang Chu berkata pada Nanrong Chu, "Scolioidea tidak dapat mendidik ulat kubis, ayam vietnam tidak dapat mengerami telur angsa. Namun, ada semacam ayam Shandong justru dapat mengerami telur angsa."
Lebih lanjut, "Antara sesama ayam, sepertinya bentuk dan wataknya hampir sama, namun ada perbedaan tingkat kemampuan, kemampuan saya kecil, tidak berhak mengajari Dao pada Anda, silahkan cari orang bijak yang lain saja!"
Begitu Nanrong Chu mendengar bahwa Gengsang Chu tidak berani mengajarinya, ia pun mundur.
Kisah ini membuat saya teringat bahwa antara sesama ayam ada bedanya:
Ayam leghorn -- khusus bertelur.
Ayam kampung -- dagingnya sangat berkualitas.
Ayam bertulang hitam -- paling bergizi.
Ayam hutan -- alami.
Ayam mutiara -- paling indah.
Ayam kalkun -- terus berkokok.
Merak -- permaisuri yang paling cantik.
Gengsang Chu menggunakan perumpamaan sesama ayam, kekuatannya kecil, tidak dapat mendidik "telur watak pemberontak" seperti Nanrong Chu.
Haha! Asyik.
Sementara saya, Lian Sheng, benar-benar orang sombong, mengapa menyebut diri saya orang sombong?
Saya menerima siapapun sebagai murid, karena saya tidak mengabaikan seorang insan pun, saya menerima semuanya menjadi murid.
Saya mengajari mereka tanpa membeda-bedakan, sebenarnya di antara murid saya banyak yang berwatak pemberontak.
Saya langsung tahu begitu melihatnya sekali.
Namun, karena saya orang sombong, saya tidak peduli apakah itu "watak benar", "watak pemberontak", "watak sesat", "watak terbalik", "watak aneh", "watak suci", "watak awam", "watak siluman", "watak bedebah", "watak asusila"....... Semuanya diterima menjadi murid.
Itu sebabnya, murid saya banyak, tapi sangat kacau pula.
Mengapa saya tidak takut "watak pemberontak" membunuh gurunya?
Sepatah kalimat, "Keberanian bersumber dari kepandaian yang luar biasa."
Saya berdiri di tingkat tertinggi, melihat ke atas, di atas sudah tidak ada orang lain lagi. Lalu melihat ke kiri dan ke kanan, orang yang setingkat dengan saya bisa dihitung dengan jari, jumlahnya tidak seberapa, hanya dua-tiga orang saja. Saya adalah orang sombong, hanya saya yang berkuasa.
Banyak orang yang menyebut dirinya "Guru Besar", "Shangren", "Buddha Hidup", "Guru Sekte", "Upasaka Besar", di mata saya, semuanya sedang mendaki di separuh pinggang gunung, mereka paling tidak adalah ayam kalkun yang terus berkokok.
Ada lagi ayam-ayam kecil yang belum lulus TK nol, juga menyebut dirinya sendiri bodhisattva.
Benar-benar membuat saya memuncratkan nasi!
Saya pikir, Gengsang Chu tidak berani menerima Nanrong Chu sebagai murid, tetapi saya justru berani, ini karena jika saya tidak menerima orang-orang berwatak pemberontak ini, membiarkan mereka berguru pada orang lain.
Paling tidak menghasilkan beberapa ekor ayam kalkun saja, orang sombong seperti saya ini mengasihani orang-orang demikian, orang-orang ini "tahun keledai" baru bisa memperoleh Dao, benar-benar lama tak terhingga.
Bagaimana kalau "watak pemberontak" balik mengigit saya? Gigit hingga ke tulang, namun, saya memperoleh Dao ya memperoleh Dao, digigit juga memperoleh Dao, apa yang ditakutkan?
Orang sombong memperoleh Dao, gigit ya gigit, tidak sakit juga tidak gatal, inilah yang disebut "tidak apa-apa"!
MENGENAL HEVAJRA
Pertama-tama, lewat Vajracarya yang benar-benar mendapat silsilah, lebih dulu menekuni penampakan "Hevajra", dengan kata lain, mengundang "Hevajra" dari tengah angkasa untuk muncul dan turun di atas mandala "Hevajra" yang sudah dilukis dan dibuat sebelumnya.
Adakan Trimula puja dan pelantunan sutra "Hevajra".
Selanjutnya, Vajracarya menekuni Sadhana penjapaan "Hevajra", setelah semua tatacara dirampungkan, lalu gelar ritual abhiseka.
Abhiseka tetap dibagi menjadi 4 tingkatan:
1. Abhiseka pertama (abhiseka yidam).
2. Abhiseka kedua (bunga merah dan bunga putih).
3. Abhiseka ketiga (abhiseka sentuhan).
4. Abhiseka keempat (Dzogchen).
Pada upacara "Hevajra", sadhaka biasa hanya diperkenakan memperoleh "abhiseka pertama", sadhaka abhiseka pertama harus belajar sadhana penjapaan.
Tujuan dari sadhana penjapaan ini terletak pada penyatuan "Hevajra" dan "sadhaka".
Dengan kata lain, sadhaka berubah menjadi "Hevajra".
*
Saat ini, Vajracarya harus menjelaskan segala sesuatu tentang "Hevajra", termasuk rahasia "Hevajra":
1. Merupakan Dharma-rasa dari mahamaitri dan prajna.
2. Merupakan sadhana dari duniawi hingga non duniawi.
3. Merupakan tingkatan dari "Heruka" hingga pembebasan.
Setelah yidam dan sadhaka menyatu, selanjutnya menekuni keempat macam keberhasilan yang wajib ditekuni, yakni:
1. Santika / tolak bala. (mantra)
2. Paustika / kemakmuran. (mantra)
3. Wasikarana / keharmonisan. (mantra)
4. Abhicaruka / penundukan. (mantra)
Dan transmisi "mantra" dari segala ritual, inilah mantra khusus dan rahasia di luar dari "mantra yidam".
*
Saya merasa, visualisasi yang paling rumit ada tiga:
1. Visualisasi mandala.
2. Visualisasi yidam.
3. Visualisasi kerabat. (Mingfei atau pendamping)
Jika Anda melakukan ketiga jenis visualisasi ini, mata Anda akan berkunang-kunang, saya merasa sebaiknya disederhanakan dengan visualisasi secara simbolis saja, namun, tidak kehilangan Dharma-rasa nya.
Misalnya:
Semua muncul dalam seketika.
(Ini adalah asumsi saya pribadi)
Sadhana khusus dan rahasia ini harus dijelaskan kepada siswa yang "memenuhi syarat sebagai alat", siswa yang tidak "memenuhi syarat sebagai alat" akan berdosa.
Ini termasuk lingkup "mudra karma".
Vajracarya harus mencapai tingkat:
"Sunyata".
"Anasrava".
Sadhaka biasa juga harus memenuhi syarat keberhasilan yang mendasar, barulah boleh menekuninya, misalnya "bindu", "api tummo", dan "anasrava".
Memahami catur-mudita atau empat kenikmatan (catur-sunya atau empat kekosongan). Prathama-mudita atau kenikmatan awal, Uttara-mudita atau kenikmatan unggul, Anapta-mudita atau meninggalkan kenikmatan, Sahaja-mudita atau kenikmatan sempurna.
Mencapai keberhasilan "terang", "mahasukha", dan "pembebasan".
Penjelasan atas enam dosa, "Keserakahan, kemarahan, kebodohan, keragu-raguan, kesombongan, dan pandangan sesat."
Vajracarya harus menjelaskan "Tahapan penyucian":
"Sad-indera atau enam indera".
"Sad-vijnana atau enam kesadaran".
"Panca-skanda atau lima agregat".
"Panca-bhuta atau lima elemen".
Setelah mencapai tingkat "kesucian", "Adarsa-jnana" semacam ini disebut sebagai alam yang tertinggi, sifat dasar dari dunia ini adalah bersih, inilah kebenaran yang tertinggi.
"Sunya dan tidak sunya".
"Saya dan bukan saya".
NEGERI SEMUT
Melihat saya di hadapannya, ia berkata, "Saya terlahir di negeri semut."
"Mengapa bisa terlahir di negeri semut?" tanyaku.
"Dosa kecanduan," paparnya.
* * *
Saya menemukan sebuah 'masalah besar' di alam baka. Dunia zaman sekarang, banyak sekali orang yang bereinkarnasi di negeri semut, antara lain:
Orang kulit putih reinkarnasi menjadi semut putih.
Orang kulit merah reinkarnasi menjadi semut merah.
Orang kulit kuning reinkarnasi menjadi semut kuning.
Orang kulit hitam reinkarnasi menjadi semut hitam.
Saya sengaja menemui Raja Yama untuk menanyakan masalah ini.
Raja Yama berkata, "Dunia zaman sekarang, banyak sekali remaja yang kecanduan pada 'game komputer' di warnet. Sekali kecanduan sudah sulit menarik diri, lalu selamanya menjadi orang tak berguna yang menutu diri di dunia maya. Oleh karena jumlah remaja semacam ini sangat banyak, kini terpaksa semuanya reinkarnasi di negeri semut," lanjut Raja Yama, "Ada sebagian muda-mudi yang kecanduan narkoba. Mereka tidak sudi tekun belajar, malah mencari rangsangan dan terjerumus ke dalam perangkap narkoba, akhirnya tak mampu menarik diri. Bagi muda-mudi ini yang tidak melakukan tindak kriminal pencurian, semuanya reinkarnasi di negeri semut."
"Ada pula sebagian orang yang kecanduan pada lotere, judi, atau judi elektronik. Begitu terperangkap pun tak tahu menarik diri. Bagi orang-orang ini yang tidak melakukan tindak kriminal pencurian, semuanya reinkarnasi di negeri semut." Raja Yama menambahkan.
Penjelasan Raja Yama sempat membuat diriku merasa resah.
"Apakah kecanduan juga termasuk dosa?" tanyaku.
"Mereka sia-sia menjadi manusia!" jawab Raja Yama.
"Mengapa reinkarnasi di negeri semut?"
"Agar mereka lebih giat lagi!"
* * *
Saya bertanya pada Raja Yama, "Dulu, ketika seorang Maha-arahat sedang bermeditasi, sekawanan roh semut yang menggabungkan diri dalam wujud manusia, bertanya pada Maha-arahat, "Bagaimana caranya agar semut bisa reinkarnasi menjadi manusia?" Maha-arahat menjawab, "Sulit sekali! Dikuatirkan setelah sekian kalpa yang tak terhitung pun tak dapat kembali menjadi manusia!" Jadi, reinkarnasi menjadi semut itu mudah, dari semut reinkarnasi menjadi manusia itu sulit. Mengapa?"
"Manusia tahu keberadaan negeri semut, semut tidak tahu keberadaan alam manusia. Oleh karena itu, semut sulit kembali menjadi manusia!" ujar Raja Yama.
"Demikian beratkah dosa kecanduan?"
"Walaupun kecanduan bukan merupakan dosa berat, namun, jadi manusia tak berguna dengan pembelengguan jiwa-raga ini akan menyia-nyiakan tubuh manusia sehingga kehilangan kesempatan menjadi manusia. Reinkarnasi di negeri semut sungguh merupakan sanksi agar giat bekerja!"
"Tubuh manusia sulit didapatkan! Tak disangka, kecanduan sekecil ini akan kehilangan tubuh manusia yang sulit didapat kembali!" desahku.
Yoyo, remaja yang tak mampu menarik diri dari kecanduan game komputer, sia-sia!
Waspadailah game komputer, narkoba, dan perjudian!
Sebuah pertanyaanku untuk sidang pembaca:
Adakah perbedaan dan persamaan antara alam manusia dan negeri semut? Pertanyaan ini sangat menarik, silahkan direnungi dan didiskusikan!
TULAH MENGGADAIKAN TATHAGATA
Seorang penjahat yang dibekuk petugas neraka dipaksa menelan bola besi yang membara. Bola besi yang sudah membara itu masuk melalui mulut, rongga kerongkongan, lambung, terus turun ke usus. Terdengar bunyi, "Ze....ze....." dan menghanguskan setiap bagian tubuh yang dilalui besi pijar itu.
Penjahat itu menjerit kesakitan, lalu mati!
Seorang penjahat yang lain juga dibekuk petugas neraka dan dipaksa meneguk cairan besi yang memijar. Cairan besi itu masuk melalui mulut, rongga kerongkongan, lambung, terus turun ke usus. Setiap bagian tubuh yang dilalui cairan itu langsung lumer dan menjadi abu.
Penjahat yang satu ini belum sempat menjerit pun sudah mati.
Saya terperanjat menyaksikan adegan ini.
Saya bertanya pada Raja Yama, "Apa sebabnya?"
Raja Yama menjawab, "Inilah akibat dari aksi manipulasi atas dana vihara, dana cetiya, dana pratima Buddha, dan dana persembahan untuk Buddha."
"Nama dosanya?"
"Menggadaikan Tahthagata."
* * *
Setahu saya, banyak sekali kasus umat Buddha yang "menggadaikan Tathagata", antara lain:
- Secara ilegal, vihara dijadikan milik pribadi. Milik umum dijadikan milik pribadi, ini namanya menggadaikan Tathagata.
- Secara diam-diam aset cetiya dibalik nama menjadi aset milik pribadi, ini namanya menggadaikan Tathagata.
- Dengan alasan menggalang dana untuk pembuatan pratima Buddha, lalu satu pratima dicarikan banyak donatur yang kelebihan dananya dimasukkan dalam saku pribadi, ini namanya menggadaikan Tathagata.
- Dana tempat ibadah tidak dipergunakan untuk Dharmabakti malah dibawa kabur, ini namanya menggadaikan Tathagata.
- Dengan mengatasnamakan Buddha lalu menggalang dana padahal masuk kocek pribadi. Modus manipulasi atas nama Buddha ini namanya menggadaikan Tathagata.
- Dengan alasan menggalang dana untuk bakti sosial padahal dimasukkan ke rekening sendiri. Modus manipulasi atas nama welas asih ini namanya menggadaikan Tathagata.
- Dengan alasan berdana bakti untuk Mahaguru lalu dananya dibawa kabur, ini namanya menggadaikan Tathagata, dan sebagainya.
* * *
Saya sebut "umat Agama Buddha" sungguh telah memberi muka pada mereka. Padahal mereka lebih pantas disebut "oknum Agama Buddha" yang kerjaannya semata-mata menggadaikan Tathagata. Orang 'parasit' semacam ini banyak sekali, sudah bukan hal aneh lagi. Mereka melakukan aksi manipulasi dengan tameng 'Tathagata', sungguh menyedihkan!
Hatiku sedih menyaksikan umat Zhenfo Zong yang kukenal terjerumus ke alam neraka dan dihukum telan bola besi dan teguk cairan besi. (umat ini menggerogoti dana persembahan hasil upacara ritual)
Saya bertanya pada Raja Yama, "Bolehkah saya menolong umat ini?"
Raja Yama menjawab, "Orang seperti dia tidak perlu Anda tolong. Orang yang menelan bola besi dan meneguk cairan besi, walaupun tertolong, ia sudah seperti memperoleh pelita dalam kehidupan."
Saya paham, lalu bertanya, "Ke manakah ia akan bereinkarnasi?"
"Ia akan menebus dosanya dengan wujud berbulu dan bertanduk."
Saya turut prihatin.
* * *
Pertanyaanku untuk sidang pembaca:
Mengapa telan bola besi dan teguk carian besi dikatakan seperti memperoleh pelita dalam keredupan? Alam manakah yang dimaksud dengan 'wujud berbulu dan bertanduk'?
Kedua pertanyaanku ini tidak sulit, kiranya Anda paham dan mampu menjawabnya.
Satu pertanyaan lagi, mengapa umat Agama Buddha masih berbondong-bondong ingin menelan bola besi dan meneguk cairan besi?
AYAM MEMATUK MATA PENJAGAL
Di alam baka, saya menyaksikan Raja Yama mengadili seorang penjagal.
Raja Yama berkata, "Sudah berapa ekor ayam yang kamu sembelih selama di alam fana?"
Penjagal menjawab, "Tak dapat dihitung."
Raja Yama berkata, "Karma pembunuhan itu paling berat. Biarlah ayam yang kamu sembelih itu mematuk matamu, bagaimana?"
"Itu akan sakit sekali!" sahut penjagal.
"Memangnya ayam yang kamu sembelih itu tidak merasa sakit?" tanya Raja Yama.
Penjagal membisu.
Tampak ayam maju satu per satu mematuk mata penjagal. Dua ekor ayam berhasil mematuk kedua bola mata penjagal, lantai penuh dengan darah. Penjagal menjerit, "Sakit....!"
Namun, kedua bola mata penjagal itu segera tumbuh kembali. Dua ekor ayam lain menyusul maju mematuk lagi kedua mata penjagal.
Ratapan sadis tak henti-henti......
Darah terus bercucuran.
Dua bola mata yang baru segera tumbuh. Jutaan ekor ayam maju teratur. Bola mata yang berlumuran darah bergelinding di tanah. Sungguh adegan yang tragis.
*
Kitab sutra menyebutkan:
Buddha bersabda pada Sogha, "Terdapat sepuluh jenis karma yang membuat makhluk berbuah karma pendek umur: (1) Membunuh dengan tangan sendiri. (2) Menganjurkan orang lain membunuh. (3) Memuji aksi pembunuhan. (4) Senang melihat pembunuhan. (5) Bermaksud mematikan orang yang dibenci. (6) Senang menyaksikan kematian orang yang dibenci. (7) Merusak janin orang lain. (8) Menghasut orang lain melakukan aksi perusakan. (9) Makhluk hidup dijadikan kurban sebuah ritual. (10) Menghasut orang lain saling membunuh. Kesepuluh karma di atas akan berbuah karma pendek umur."
Menurut hemat saya, bukan saja berbuah karma pendek umur, bahkan harus dibayar dengan karma pembunuhan kasus per kasus sampai tuntas!
Begitu pula yang dialami penjagal tersebut.
Saya merasa iba menyaksikan adegan "ayam mematuk mata penjagal", lalu berkata pada Raja Yama, "Saya ingin menyelamatkan penjagal!"
"Kalau Anda merasa tidak tega, silahkan saja, terserah Anda!" papar Raja Yama.
Saya memanggil penjagal ke pinggir, lalu mengajarinya menyebut, "OM. GURU. LIAN SHENG SIDDHI. HUM."
Penjagal segera dapat menguasainya.
Saya berpesan, "Begitu seekor ayam maju, bacalah satu kali; ayam berikutnya maju, bacalah dua kali. Jutaan ekor ayam maju, bacalah berjuta-juta kali."
Penjagal menggelengkan kepala, "Jutaan kali, terlalu susah."
"Mau dipatuk jutaan kali atau mau membaca jutaan kali?" "Mendingan baca mantra saja!" sahut penjagal.
*
Memang aneh, begitu penjagal membaca satu kali "OM. GURU. LIAN SHENG SIDDHI. HUM." ayam lenyap satu ekor; baca dua kali, ayam lenyap dua ekor. Penjagal mati-matian membacanya, ayam pun satu per satu lenyap.
Ketika membaca sampai jutaan kali, tiba-tiba terdengar suara menggelegar, seluruh ayam jadi lenyap. Penjagal terus membaca, tampak di bawah kakinya muncul teratai putih.
Sungguh seperti yang dikatakan dalam sebuah kalimat sebagai berikut:
"Di alam ini, hanyalah teratai putih yang mampu mengakhiri segenap ilusi dalam segala sebab dan kondisi."
Raja Yama merasa kagum menyaksikan hal ini!
Sedangkan ayam yang pernah dibunuh penjagal itu terseberangkan seluruhnya. Sungguh ajaib!
Mantra Padma Putih!
*
Pertanyaanku untuk umat suci:
Ketika menjapa "OM. GURU. LIAN SHENG SIDDHI. HUM.", tentu Anda memahami mantra ini karena saya sudah berulang kali menjelaskannya. Namun, dalam mantra ini, tahukah Anda kata mana yang berarti Buddhata? Kata mana yang berarti citta (Hati)?
Silahkan diskusi!
SIAPA GURU BIJAK SEJATI
Seorang inspektur pendidikan bertanya pada seorang siswa, "Siapa yang membakar Afanggong?"
Siswa menjawab, "Bukan saya."
Si inspektur pendidikan marah sekali begitu mendengarnya. Si siswa kemudian dipanggil ke kantor kepala sekolah, lalu si inspektur pendidikan berkata kepada kepala sekolah, "Anda lihat, siswa ini begitu bodoh, saya tanya padanya siapa yang membakar Afanggong, ia menjawab, bukan saya."
Kepala sekolah menjawab, "Ia benar, memang bukan dia yang membakar Afanggong. Juga bukan saya."
Inspektur pendidikan, "..........."
Saya terbahak-bahak begitu mendengar cerita lucu ini.
Seingatku suatu kali ---
Sekelompok orang sedang berdiskusi "Siapa guru bijak sejati?" "Siapa guru bijak nomor satu di kolong langit?" "Siapa orang yang benar-benar mencapai pencerahan?" "Siapa orang nomor satu pada saat ini?"
Ada yang menjawab, "Suma Ching Hai."
Ada yang menjawab, "Master Cheng Yen."
Ada yang menjawab, "Master Hsing Yun."
Ada yang menjawab, "Dalai Lama."
........
Jawaban dari sekelompok orang itu persis seperti kalimat di dalam Yijing(Kitab Perubahan), "Cara pandang dari seorang yang susila disebut kesusilaan, cara pandang dari seorang yang bijak disebut kebijaksanaan, orang awam serring menggunakannya dalam kehidupan sehari hari, namun tidak mengetahui maknanya."
Saya juga terbahak-bahak.
Guru Zen Zhigong berkata, "Jika dalam kehidupan ini, Anda tidak bertemu seorang guru bijak sejati, Anda memang sia-sia belajar Buddhadharma Mahayana. Kekuatan seorang umat Buddha sangat kecil, sekalipun Anda telah menguasai Triarya, Caturphala, dan Dasabhumi, namun Anda hanya duduk di antara orang awam dan orang suci, tidak dapat benar-benar menyaksikan kebenaran. Anitya adalah Dharma yang tidak kekal, bagaikan memanah, jika kekuatan telah habis, panah tetap akan terjatuh."
Guru Zen Zhigong berkata, "Jika seorang umat Buddha tidak bertemu seorang guru bijak, biarpun Anda mengusahakan lewat bahasa, memohon pada Buddha, memohon pada Sangha, mengusahakan lewat Zen, Sukhavati, Tantra, Vinaya, dan lain sebagainya, tetap tidak dapat melampaui seketika. Walau telah belajar selama tiga tahun, lima tahun, bahkan sepuluh tahun, tetap tidak mengena dengan Buddhadharma."
Guru Zen Zhigong terakhir berkata, "Semua sabda Tathagata untuk menyadarkan manusia, ibarat mengatakan daun kuning adalah emas demi menghentikan tangisan anak kecil. Ini sungguh tidak nyata. Jika ada yang menganggapnya nyata, tidak dapat benar-benar menyaksikan kebenaran."
*
Sekarang, saya bertanya pada Anda semua:
"Siapa guru bijak sejati?"
"Siapa guru bijak nomor satu di kolong langit?"
"Siapa orang yang benar-benar mencapai pencerahan?"
"Siapa orang nomor satu di kolong langit pada saat ini?"
Demikian jawaban saya:
"Orang yang tidak dapat apa-apa."
"Orang yang tidak punya apa-apa."
"Orang yang tidak mengharapkan apa-apa."
"Orang yang spontan pada saat ini."
Jika Anda semua berulang kali kehilangan seorang guru bijak, sama sekali tidak ada satu pun "Ru Tou Chu". Mencari dengan segala cara, selamanya tidak tahu apa itu Anuttara Samyaksambodhi.
KEKUATAN DAN KEINDAHAN
Tanggal 14 Januari 2007, saya memimpin upacara peresmian Vihara Lei Tsang Taiwan, kemudian mentransmisikan "Upacara Kalachakra", pada upacara peresmian tersebut, saya melihat acara tarian Sdri. Qiuyue, yakni:
"Tarian Sitatapatra Bhagawati".
Sebenarnya tarian ini, enam tahun yang lalu, sebelum saya bertapa, telah dipertunjukkan sekali di Hong Kong, namun, saya di belakang panggung, jadi saya tidak menontonnya.
Kali ini, saya menonton dengan mata sendiri, saya tergugah sekali begitu menonton.
Saya merasakan, "Kekuatan dan keindahan."
Yang dimaksud dengan kekuatan adalah kemunculan "Dewa Vajra", Vajrapani memegang "Vajra Dorje" dan "Panji Penyingkir Rintangan", sekali tangan diangkat, sekali kaki berpijak, semua adalah lambang "kekuatan", gagah dan berwibawa, didominasi oleh nuansa tak terkalahkan ibarat di langit dan di bumi, hanya Akulah yang berkuasa.
Melambangkan:
"Simabandhana", "Menyingkirkan Rintangan", "Mengusir Mara".
Yang dimaksud dengan keindahan adalah kemunculan Daka dan Dakini, Daka memegang "payung", Dakini memegang "Dundubhi" (tambur Dharma), seluruh bulan dan bintang bergembira.
Muncullah enam sosok dewi, tangan memegang "teratai" dan "payung berwarna", gerakan tarian lemah gemulai dan cekatan.
Melambangkan:
"Persembahan", "Perlindungan".
Bagian ini adalah puncak dari "keindahan".
Akhirnya, tokoh utama menampakkan diri, Sitatapatra Bhagawati, terbagi menjadi "Bhagawati Putih", "Bhagawati Merah", dan "Bhagawati Biru", di atasnya ada payung besar berwarna putih, muncul dengan sangat khidmat.
Sitatapatra Bhagawati adalah "ramah tamah dan lembut", juga "berlari kencang", merupakan perpaduan dari "kekuatan" dan "keindahan".
Kemunculan Sitatapatra Bhagawati melambangkan:
"Penundukan".
"Perlindungan".
"Karma".
"Memohon Buddha".
Suara tambur itu, musik surgawi itu, suara mantra itu, membuat orang melebur ke dalam melodi "kekuatan" dan "keindahan", membuat orang mabuk kepayang!
"HUM. MAMA. HUMNI. SUOHA."
"HUM. MAMA. HUMNI. SUOHA."
"HUM. MAMA. HUMNI. SUOHA."
Suara mantra Sitatapatra Bhagawati membubung, ke atas hingga 28 surga, ke bawah hingga tiga alam samsara.
Membuat para insan bersarana dan belajar Agama Buddha dengan sukacita.
*
Sdri. Lianhua Qiuyue adalah seorang saudari se-Dharma yang sangat berbakat, ia memimpin "Ancient Moon Dance Theatre" dan bercita-cita tinggi untuk meleburkan Buddhadharma di dalam tarian.
Saya pribadi beranggapan bahwa:
Apa itu Buddhadharma?
Buddhadharma itu apa?
Saya berkata:
Semua adalah Buddhadharma. Kehidupan sehari-hari yang terdiri dari: pangan, sandang, papan, transportasi, pendidikan, dan hiburan.
Musik.
Seni.
Tarian.
Drama.
Saya, Buddha Hidup Lian Sheng Sheng-yen Lu, mencabut sehelai bulu halus dan berkata:
"Inilah Buddhadharma!" Ha ha!
MEMASUKI SUTRA RAJA AGUNG AVALOKITESVARA
Saat melakukan perjalanan astral dalam Samadhi, saya memasuki alam yang menakjubkan, ternyata saya masuk dalam sebuah Sutra, bertemu dengan Samadhiprabha Tathagata (定光佛 / Ding Guang Fo). Huruf dalam Sutra itu membesar, dari dalam tiap huruf muncul Para Buddha yang tak terhitung banyaknya, Samadhiprabha Tathagata berada di depan, sedangkan Para Buddha yang lain berada di belakang, masing-masing duduk diatas padmasana, memancarkan cahaya tiada batasnya. Suasananya sungguh penuh keagungan.
Sutra ini adalah Sutra Raja Agung Avalokitesvara (高王觀世音真經 / Gaowang Guanshiyin Zhenjing), yang disebut juga Sutra Raja Agung (高王經 / Gaowangjing), merupakan Sutra yang saya junjung tinggi.
Kita semua tahu, Samadhiprabha Tatagatha disebut juga Dipankara Buddha (燃燈佛 / Randeng Fo).
Dalam Prajnaparamita Upadesa Sastra (智度論) dikatakan, "Saat Buddha Dipankara lahir, sekeliling tubuh-Nya bagaikan pelita, maka dinamakan Pangeran Dipankara. Mencapai ke-Buddha-an juga bernama Dipankara, nama lainnya adalah Samadhiprabha Tathagata."
Sakyamuni Buddha memperoleh vyakarana dari Samadhiprabha Tathagata:
"Di masa Samadhiprabha Tathagata, Aku adalah seorang Bodhisattva yang bernama Bocah Bijak (儒童), membeli bunga teratai untuk di taburkan sebagai persembahan kepada Samadhiprabha Tathagata. Bunga teratai yang Aku taburkan melayang diudara, Sang Tathagata yang memahami makna dibalik fenomena ini memuji : Kesucian yang telah Engkau latih sejak masa lampau yang tak terhingga, merupakan penyebab peristiwa ini, dan dalam 91 kalpa kemudian Engkau akan menjadi Buddha dengan nama Sakyamuni."
Saat saya memasuki Sutra Raja Agung, berjumpa dengan Samadhiprabha Tathagata dan Para Buddha dari sepuluh penjuru Negeri Buddha yang tak terhingga banyaknya bagaikan butiran debu. Masing-masing duduk diatas Padmasana dan memancarkan cahaya.
Saya mengatakan, "Dalam Sutra Raja Agung tercantum nama Para Buddha dan Bodhisattva, membuat umat timbul sukacita."
Samadhiprabha Tathagata bertanya, "Apakah Anda mengetahui kebenaran yang terkandung di dalamnya?"
Saya menjawab, "Kebenaran yang bagaimanakah?"
Samadhiprabha Tathagata menjawab, "Praktek!"
"Praktek? Saya tidak paham."
Samadhiprabha Tathagata memberitahukan kepada saya, "Sutra ini adalah Sutra Praktek, umat di dunia hanya melihat tampak luarnya saja, tidak memahami makna yang terkandung di dalamnya. Sekarang, Saya khusus memberitahu Anda, kemudian ajarkanlah kepada para umat."
Samadhiprabha Tathagata mengatakan :
Suddharasmiprabhaguhya Buddha (淨光秘密佛 / Jing Guang Mi Mi Fo) adalah praktek cahaya kesucian Tantrika.
Dharmakara Buddha (法藏佛 / Fa Zhang Fo) adalah pelaksanaan dari hati adalah Dharma, Dharma adalah hati.
Simhanada Rddhividhijnanaraja Buddha (獅子吼神足幽王佛 / Shi Zi Hou Shen Zhu You Wang Fo) adalah praktek dari siddhi kaki dewa untuk menyelamatkan makhluk. (Ket :Siddhi kaki dewa adalah kemampuan untuk dalam sekejap sampai di tempat yang ingin dituju.)
Merupradiparaja Buddha (佛告須彌燈王佛 / Fo Gao Xu Mi Deng Wang Fo) adalah praktek memancarkan cahaya ke sepuluh penjuru.
Dharmapala Buddha (法護佛 / Fa Hu Fo) adalah praktek melindungi Buddha Dharma. (Ket : melestarikan dan menyebarluaskan demi keuntungan para makhluk)
Vajragarbha Simhakridanika Buddha (金剛藏獅子遊戲佛 / Jin Gang Zhang Shi Zi You Xi Fo) adalah bermakna praktek dan permainan ( Ket : praktek diumpamakan sebagai permainan dari karuna-prajna, iddhi dan lain-lain)
Ratnavijaya Buddha (寶勝佛 / Bao Sheng Fo) adalah praktek kesuksesan menjalankan Buddharatna (Ket : Berlindung pada Buddha sampai realisasi ke-Buddha-an).
Rddhiabhijnana Buddha (神通佛 / Shen Tong Fo) adalah praktek enam kekuatan batin. (Ket : enam kekuatan batin meliputi : kaki dewa, mata dewa, telinga dewa, kemampuan untuk mengetahui isi hati, mengetahui kehidupan lampau dan mendatang, dan kemampuan menghapus segala kilesha mencapai pembebasan sejati.)
Bhaisajyaguru Vaiduryaprabharaja Buddha (藥師流璃光王佛 / Yao Shi Liu Li Guang Wang Fo) adalah pelaksanaan sebagai Maha Tabib yang menolong dunia. (Ket : Mengobati lobha, dosha dan moha dari para makhluk)
Samantaprabhagunagiriraja Buddha (普光功德山王佛 / Pu Guang Gong De Shan Wang Fo) adalah pelaksanaan yang berupa cahaya dari pahala yang memenuhi semesta. (Ket : merupakan gelar ke-Buddha-an dari Avalokitesvara Bodhisattva kelak, sebagai teladan bagi sadhaka tantra)
Supratisthitagunaratnagiriraja Buddha (善住功德寶王佛 / Shan Zhu Gong De Bao Wang Fo) adalah pelaksanaan pahala kebajikan di semesta. (Ket : merupakan gelar ke-Buddha-an dari Mahastmaprapta Bodhisattva kelak, sebagai teladan bagi sadhaka tantra.)
Samadhiprabha Buddha mengatakan, "Sedangkan Saya, Samadhiprabha Buddha adalah praktek dari Samadhi yang memancarkan cahaya."
Dan lain-lain.
Setelah saya mendengarnya, tiba-tiba tersadarkan.
"Ternyata nama dari Para Buddha dan Bodhisattva mengandung kebenaran dari praktek!"
Coba kita pikir, Sutra Raja Agung mengandung makna rahasya dari praktek :
Cahaya kesucian.
Rahasya hati Dharma.
Kaki dewa.
Raja Pelita.
Dharmapala.
Permainan.
Kesuksesan dari pelatihan diri.
Kekuatan batin.
Mengobati penyakit.
Pahala.
Samadhiprabha Tathagata menganalisis satu demi satu jalan praktek dari Sutra Raja Agung, sungguh membuat saya menjadi amat sangat takjub. Saya kira Sutra Raja Agung hanya berisi nama dari Para Buddha dan Bodhisattva saja, ternyata semua merupakan jalan praktek!
Ada orang yang menganggap bahwa Sutra Raja Agung adalah Sutra palsu, bagaimana dia bisa paham bahwa Sutra Raja Agung merupakan jalan praktek dan sangat unggul!
"ANGIN BEREMBUS DAN OMBAK BERGEMURUH" (PRAKATA)
Transmisi sadhana, abhiseka, dan upacara yang saya adakan saja dihadiri oleh puluhan ribu orang.
Karena saya menekuni sadhana Tantra, sesungguhnya, saya telah mencapai:
"Keberhasilan mimpi."
"Keberhasilan tubuh ilusi."
"Keberhasilan tubuh menghilang."
"Keberhasilan menjelma."
"Keberhasilan alam suci."
"Keberhasilan dalam tubuh sekarang."
Dan lain sebagainya.
Upacara saya selalu terjadi banyak muzijat, misalnya: tiga berkas pelangi, di tengah angkasa turun hujan bunga, keharuman di mana-mana. Bila mengadakan upacara Dewa Vajra, langit akan menurunkan fenomena yang luar biasa seperti petir, halilintar, angin, hujan es, es, salju, dan lain-lain.
Peserta upacara akan melihat tubuh saya menghilang, memancarkan ratusan berkas cahaya. Melihat saya telah berubah menjadi Amitabha Buddha, Manjushri Bodhisattva, Yamantaka. Atau berubah menjadi segumpal cahaya, atau berubah menjadi sebuah aksara mantra, atau berubah menjadi dorje, atau alam suci Buddhaloka, wujud yang dilihat oleh setiap orang berbeda-beda.
Para siswa yang mengikuti upacara akan mengalami fenomena kemujuran, misalnya: yang bisu bisa bicara, yang tuli bisa mendengar, yang bungkuk menjadi lurus, yang duduk di kursi roda berdiri, yang sakit sembuh dengan sendirinya, banyak pasien telah sembuh setelah mengikuti upacara.
Tidak hanya keberhasilan saya yang begitu menakjubkan.
Sekarang orang yang gigih menekuni "Sadhana Tantra Zhenfo" pun mencapai keberhasilan yang sangat tinggi.
*
Saya memang seorang umat Buddha yang mendalami Tripitaka, jadi saya mengajari siswa saya, bahwa:
Setiap agama itu sederajat.
Setiap Dharma itu sederajat.
Setiap aliran itu sederajat.
Delapan puluh empat ribu pintu Dharma, walaupun metodenya "berbeda-beda", namun, keberhasilan yang tertinggi "tidak ada bedanya".
Pada dasarnya Buddhadharma meminta kita:
Menghentikan semua kerisauan.
Menghentikan semua rintangan.
Memahami hati dan menyaksikan Buddhata.
Mengendalikan hidup dan mati.
Mencapai kebuddhaan dalam tubuh sekarang.
Jadi, saya mengajarkan Buddhadharma, pertama, meminta orang menaati sila. Kedua, meminta orang menekuni Sukhavati. Ketiga, meminta orang memahami hati. Keempat, meminta orang menyaksikan Buddhata. Kelima, meminta orang menekuni sadhana Tantra.
Saya mengajarkan "Dhyana, Sukhavati, Tantra, Vinaya" kepada setiap umat sesuai dengan bakatnya.
Saya adalah arya sangha yang "menyaksikan kebenaran", menyaksikan vijnana kedelapan yakni Tathagatagarbha. Menyaksikan jati diri dari Madhyamika.
Buku "Angin Berembus dan Ombak Bergemuruh" adalah bahasa Dharma ko'an guru-guru sesepuh yang mencapai pencerahan dalam Sekte Zen pada zaman dulu.
Lewat pencerahan guru-guru sesepuh sekte Zen, saya menunjukkan mata rantai (titik balik) memasuki pencerahan kepada para cendekiawan masa kini.
Semoga buku ini membuat orang yang mendalami Buddhadharma mencapai pencerahan lewat pengetahuan dan pandangan yang benar.
Semoga: berhasil mencapai pencerahan!
Buddha Hidup Lian Sheng. Lu Sheng-yen
Sheng-yen Lu
17102 NE 40th CT.
Redmond, WA 98052
U.S.A
PERLINDUNGAN DARI KEBOCORAN BINDU
Apalagi sepatah kalimat di dalam "Sutra Kalachakra", yang paling mengejutkan adalah: "Kebocoran adalah penyebab keterpurukan."
Sebenarnya kebocoran dapat dibagi menjadi berbagai kondisi:
1. Kebocoran di tengah kelimpahan kenikmatan.
2. Kebocoran di tengah mimpi kebiasaan buruk mara setan.
3. Kebocoran di tengah gangguan penyakit pada malam hari.
4. Kebocoran di tengah keserakahan berhubungan dengan pasangan.
5. Kebocoran di tengah diet yang tidak teratur.
6. Kebocoran di tengah perilaku yang tidak layak.
Saya akan jelaskan keenam poin di atas sebagai berikut:
"Kebocoran di tengah kelimpahan kenikmatan" -- setelah kekuatan bersadhana mencukupi, bindu pun meningkat, namun, ketika berkelimpahan, ia akan mengalir keluar dengan sendirinya.
Cara perlindungannya adalah "Modifikasi Enam Gaya", "寂忿語導引", dan "Aksara Hum dengan Kekuatan Istimewa".
Menggunakan "Mudra Pembebasan Singa" juga boleh.
Pokoknya, bindu yang berkelimpahan, "dipencar" ke nadi-nadi.
"Kebocoran di tengah mimpi kebiasaan buruk mara setan" -- kebocoran jenis ini paling mudah terjadi pada diri sadhaka, alias "bhiksu ngompol" atau "menggambar peta", sehingga seprai dan celana dalam pun basah dan lengket, bangun tengah malam untuk cuci celana, sungguh tidak canggung!
Cara perlindungannya adalah "Sadhana Tidur Bersinar".
Atau ambil tali berwarna hitam, ikat 21 simpul, masing-masing dijapa mantra yidam 108 kali, lalu ikat di pinggang.
Atau ambil benang pancawarna yang dipilin oleh bocah perempuan, ikat 3 simpul, saat senja, japa mantra masing-masing 1080 kali, ikat di pinggang.
Mantra berbunyi:
"Om. Muzha. Dala Dsala. Bianda. Mixitadie. Suoha."
Dengan demikian dapat dilindungi.
"Kebocoran di tengah gangguan penyakit pada malam hari" – kebocoran ini dialami oleh sadhaka yang menderita sakit, ia mengalami kebocoran bindu karena gangguan makhluk halus.
Cara perlindungannya: "simabandhana".
"Simabandhana" makin ketat makin bagus, simabandhana terdiri dari kanopi Vajra, fondasi Vajra, tembok Vajra, dan api Vajra.
Lebih lanjut, serap makanan yang basah dan gatal, tutup bagian kemaluan dan pinggang dengan kulit dan bulu hewan liar.
Pasti bisa melindunginya.
"Kebocoran di tengah keserakahan berhubungan dengan pasangan" -- ketika melakukan Sadhana Yab Yum dengan pasangan, pasangan bergerak dengan hebatnya, memperlihatkan berbagai gerakan mempesona. Saat ini, sadhaka segera melakukan perlindungan dengan "Modifikasi Enam Gaya", itu yang terpenting.
Lebih lanjut, ambil bunga dan buah yang mekar sepenuhnya, haluskan menjadi bubuk, lalu makan pada saat perut kosong, bisa melindungi.
Lebih lanjut, segera berdiri terbalik, visualisasi yidam, maka bisa segera berhenti.
Kebahagiaan tertinggi dari pasangan dan pasangan memperlihatkan berbagai pesona, paling mudah membuat sadhaka kehilangan perlindungan, sadhaka segera "visualisasi sunya", japa mantra:
"Om. Alihengdaqiechazhu. Qiechazhu."
"Kebocoran di tengah diet yang tidak teratur" dan "kebocoran di tengah perilaku yang tidak layak" ada sangkut pautnya dengan keempat poin sebelumnya, sadhaka tentu harus memperhatikan keseimbangan diet dan perilaku yang layak.
Cara perlindungannya tidak istimewa, secara garis besar hampir sama dengan keempat cara perlindungan sebelumnya, semua boleh digunakan.
"Modifikasi Enam Gaya."
"Sadhana Tidur Bersinar."
"Mudra Pembebasan Singa."
"Simabandhana."
"Metode Mengikat Tali."
"Japa mantra." dan lain-lain.
Jika ada yang tidak dimengerti, sebaiknya meminta petunjuk dari Vajracarya sejati.
SADHANA PRAYOGA "HEVAJRA"
Setelah Anda mencapai kontak yoga dengan "yidam", jika Anda menekuni lagi "yidam-yidam" lain yang berjodoh dengan Anda, Anda akan mencapai kontak yoga dengan semua yidam tersebut, semudah membalikkan telapak tangan.
Dengan kata lain, bila seseorang mencapai kontak yoga dalam satu sadhana, ia pun mencapai kontak yoga dalam sadhana-sadhana lain.
Untuk mencapai kontak yoga dengan "Hevajra", menurut saya penting sekali ditunjang dengan "Sadhana Prayoga". Jangan sampai tidak ada.
1. Sarana dan abhiseka yang benar.
Bila Anda ingin bersarana pada seorang guru yang benar-benar memahami sadhana Tantra, menekuni sadhana Tantra, bahkan mencapai kontak yoga dalam sadhana Tantra, guru demikian mengerti baik "Kye-rim" maupun "Dzog-rim", malah telah mencapai mahasiddhi, guru demikian sangat langka di dunia ini.
Anda harus bersarana pada guru demikian, bahkan menerima arus Dharma abhiseka yang sejati darinya.
Guru nomor satu sangat langka, sementara yang nomor dua, nomor tiga, nomor selanjutnya ada di mana-mana.
Sementara saya (Mahaguru Lu), memiliki pengetahuan yang benar, bersadhana sungguh-sungguh, mencapai kontak yoga, dan mencapai siddhi, di mana lagi ditemukan guru demikian?
2. Menerima ajaran Bodhicitta.
a. Bodhicitta prasetya. (Mahamaitri)
b. Bodhicitta paramartha. (Mahaprajna)
c. Bodhicitta samadhi. (Mahasamadhi)
Anda harus mengerti bahwa ajaran Bodhicitta lebih tinggi daripada ajaran Dwiyana lainnya dan keberhasilannya lebih besar.
Catur-smrty-upasthana, catvari-samyak-prahanani, catvara-rddhi-pada, pancandriya, panca-balani , sapta-bodhy, aryastanga, saptatrimsad-bodhi-paksikadharmah.
3. Sadhana Pertobatan Vajrasattva.
Prayoga ini sangat penting, boleh dikatakan yang paling penting dari seluruh sadhana pertobatan di dalam Agama Tantra.
"Hevajra" mengutamakan sadhana pertobatan Vajrasattva, sebab dapat melenyapkan kegelapan selama turun-temurun, semua kotoran yang tak berguna, dan semua tanda-tanda karma. Terakhir mencapai kesucian jati diri.
Di dalam "Mata Air Amerta Cakra Shri Hevajra", Hevajra merupakan penjelmaan langsung yang seketika dari Vajrasattva.
4. Sadhana Guruyoga.
Semua orang pun tahu bahwa di dalam Agama Tantra sangat mengutamakan Sang Guru.
Sadhana Guruyoga bahkan lebih agung daripada "Hevajra".
Y.M. Naropa, menjelmakan mandala "Hevajra" di tengah angkasa.
Dan Y.M. Marpa lebih dulu bernamaskara pada "Hevajra", kemudian bernamaskara pada Y.M. Naropa.
Namun, ini salah dan terbalik.
Y.M. Naropa menarik kembali "Hevajra" ke dalam hatinya.
Ternyata, Mulaguru adalah dasar dari semua sadhana Tantra.
Jika tanpa adhistana dari Sang Guru dan mencapai kontak yoga dengan Sang Guru, jangan harap mencapai keberhasilan dalam menekuni sadhana apapun.
5. Pandangan sejati madhyamika.
Sekte Dharmalaksana--觀遍計所執非有,依他圓成非空。
Sekte Trisastra--memandang semua Dharma, tidak timbul dan tidak tenggelam, tidak datang dan tidak pergi.
Sekte Tiantai--觀三千諸法一一絕待。
Sekte Tantra--Madhyamika Prasangika, Madhyamika Svatantrika.
(外假真空。)
(外假內有。)
Saya pribadi merasa metode sadhana "Agama Tantra", misalnya "Hevajra", hakikatnya adalah "lahir dan tidak lahir".
"Memahami hati" adalah tiada.
"Menyaksikan Buddhata" adalah ada.
Bukan ada dan bukan tiada adalah pandangan benar dari Madhyamika.
Bila Anda ingin mengetahui detil dari "memahami hati dan menyaksikan Buddhata", simaklah buku "Helai-helai Pencerahan", maka pemahaman Anda akan semakin luas!
PENGACARA LUO RI-LIANG
Karena kedua pengacara besar ini adalah pasangan suami istri, satu ada "Ri" (matahari), satu lagi ada "Yue" (bulan), itu sebabnya mereka dijuluki "Agama Dewa Matahari dan Bulan."
Pengacara Huang Yue-qin adalah pengacara sekaligus penulis besar, tulisannya fasih dan halus, tulisannya sangat bagus, punya belasan nama pena, misalnya:
"Chu Xue".
"Yue Tong".
"Bing Guo".
dan lain sebagainya.
Di Majalah Randeng dan True Buddha News, serta media cetak lainnya boleh ditemukan artikelnya, saya membaca karyanya, standarnya sangat tinggi, bijaksana, dan edukatif.
*
Wisata Sakura di Hokaido, kedua suami istri pengacara juga ikut dalam tour perjalanan, sehingga jarak antara kami menjadi lebih dekat.
Kita bersama-sama mengunjungi Patung Buddha Nara.
Di luar vihara.
Ada sesosok arahat, duduk di atas Dharmasana, di atasnya tertulis tiga kata "Bin Tou Lu" (Pindara).
Saya berkata:
Arahat Pindara ini adalah "arahat yang menetap di dunia". Karena ketika Buddha berada di dunia, ada upasaka yang ingin menguji kesaktian arahat, lalu membungkus barang dengan kain dan menggantungnya di atas pohon besar. Upasaka berkata, siapa yang mempunyai kesaktian besar boleh membuka kain pembungkusnya.
Saat ini, "Pindara" keluar, lalu terbang perlahan menuju ujung ranting, lalu membuka kain pembungkusnya, lalu terbang turun secara perlahan.
Semua orang bertepuk tangan.
Namun, dengan mudah memamerkan kesaktian justru membuat Sang Buddha marah, lalu menyalahkan "Pindara".
Itu sebabnya, "Pindara" pun menjadi "arahat yang menetap di dunia".
*
Orang Jepang percaya, barangsiapa yang sakit, dengan meraba Arahat "Pindara", penyakit pun akan sembuh.
Sakit kepala meraba kepala.
Sakit kaki meraba kaki.
Pengacara Luo Ri-liang, dulu pernah mengidap penyakit serius, itu sebabnya, lambungnya luka parah, ia mengidap sakit lambung serius, tubuhnya kurus kering, makan dan minumnya dikontrol.
Pengacara Luo bertanya pada saya, "Apakah meraba lambungnya?"
Saya berkata, “Rabalah!"
"Terlalu tinggi, tangan saya tak sampai."
Saya berkata:
"Panjat dan rabalah!"
Pengacara Luo menuruti kata-kata saya, ia benar-benar memanjat lalu meraba lambung Arahat "Pindara".
Saya melihat sepasang mata Arahat "Pindara" berkilauan cahaya.
Saya berkata, "Bagus!"
*
Tak disangka, Pengacara Luo baru meraba tidak lama, lalu berkata, "Perut saya terasa lapar!"
Ternyata Pengacara Luo mengidap penyakit lambung yang membuatnya tidak pernah merasa lapar selama belasan tahun, dan hari itu muzijat terjadi, "perutnya terasa lapar".
Mengapa bisa demikian?
Terus terang saya katakan pada Anda semua, ketika "Pindara" masih di dunia, saya juga menetap di dunia. Saya dan "Pindara" adalah kenalan lama.
"Pindara" menetap di dunia, ada titah dari Buddha.
Saya "Sheng-yen Lu" menetap di dunia, ada titah dari Buddha.
Kedua "titah" ini digabungkan, lambung Luo Ri-liang pun akan "terasa lapar".
WARTAWAN HU XUE
Suatu kali, pembabaran Dharma saya menyebabkan kegemparan setempat.
Organisasi Zhenfo Zong kita ini, dari dulu sangat lemah dalam aspek "hubungan masyarakat", dalam aspek "media" pun jarang menjalin hubungan, dalam aspek "promosi" pun boleh dibilang nol.
Dengan kata lain, kita sepenuhnya mengandalkan "kekuatan fakta", sama sekali tidak mengerti promosi dan pengemasan.
Sama sekali tidak ada hubungan "diplomasi".
Saya pribadi, hanya mengerti menekuni Buddhadharma dengan sungguh-sungguh, berceramah Dharma, menulis, dan melukis.
Selebihnya, saya memang tidak mengerti.
Oleh karena itu, dari dulu sampai sekarang, kita tidak pernah mendapat "nilai positif" di mata "media".
He he!
Begitulah saya.
Semaunya.
*
Pembabaran Dharma saya menyebabkan kegemparan.
Satu kata pun dari isi pembabaran Dharma saya tidak pernah ditulis oleh wartawan, sebaliknya wartawan selalu "mencari duri dalam telur", banyak serangan ditujukan pada diri saya, pokoknya saya ditulis hingga hitam legam.
"Difitnah".
"Dihina".
"Ditertawai".
"Diejek".
Dan lain-lain.
Salah satunya, wartawan bernama Hu Xue, liputan satu halaman penuh yang ditulisnya paling menghebohkan. Singkat kata, semuanya serba rekayasa, tentu saja paling menarik perhatian massa.
Sementara saya, tidak pernah mengindahkannya.
Tidak apa-apa.
*
Setelah kejadian ini berlalu, muncul sebuah kabar:
Wartawan Hu Xue berjalan pakai tongkat!
Wartawan Hu Xue bercerita pada orang lain:
Suatu hari, ia mencari berita, lalu tinggal di sebuah hotel besar tepi danau.
Ia akhirnya tertidur setelah menulis artikel hingga larut malam, lalu ia bertemu seorang jenderal dewa, membawa serta tentara langit dan jenderal langit, mengepungnya.
Jenderal dewa itu mengenakan baju zirah, gagah dan berwibawa, dengan tegas berkata padanya:
"Mengapa Anda menghina Yang Arya yang telah memahami hati dan menyaksikan Buddhata lewat tulisan Anda?"
"Mana ada!" Hu Xue membela diri.
"Yang Arya ini adalah Buddha Hidup Lian Sheng, Sheng-yen Lu."
Wartawan Hu Xue tersentak.
Jenderal dewa itu tanpa banyak bicara, mengeluarkan goloknya, lalu memotong kaki wartawan Hu Xue.
Wartawan Hu Xue berteriak histeris, urat kakinya putus.
Ia terbangun karena kesakitan.
Tak disangka, sejak itu ia harus berjalan pakai tongkat, terpincang-pincang.
*
Kejadian ini saya dengar langsung dari mulut rekan sekerjanya. Hu Xue sendiri sudah berniat untuk bertobat, ia bilang, inilah akibat dari orang yang suka menfitnah orang lain.
Wartawan Hu Xue sendiri, sama sekali tidak beragama, sekarang sudah mulai menyebut nama Buddha.
Kejadian demikian, saya tidak berani berkomentar yang tidak-tidak, hanya berharap urat kakinya segera sembuh.
Segala sesuatu sebaiknya dipertimbangkan karmanya!
UPASAKA SHEN SHAN
Selama bertahun-tahun lamanya, Shen Shan selalu diganggu oleh sebuah mimpi buruk. Ia sering bermimpi beberapa orang bhiksu, tanpa sebab yang jelas ingin meminta nyawanya.
Ia lari ke timur, bhiksu muncul di timur.
Ia lari ke barat, bhiksu muncul di barat.
Ia lari ke selatan, bhiksu muncul di selatan.
Ia lari ke utara, bhiksu muncul di utara.
Akhirnya, Upasaka Shen Shan selalu berhasil ditangkap oleh para bhiksu, lalu ia pun dilempar ke dalam lautan api.
Kemudian ia pun terbangun setelah berteriak "histeris". Ia ketakutan hingga sekujur tubuhnya bercucuran keringat dingin!
Mimpi ini selalu terjadi beberapa hari sekali dan tidak pernah berhenti semenjak kecil hingga dewasa.
Upasaka Shen Shan memohon pada dewa dan sembahyang pada Buddha, juga melakukan sembahyang pertobatan di mana-mana, namun, mimpi buruk ini tidak pernah berhenti terus mengganggunya, Upasaka Shen Shan sangat resah dan ketakutan.
Upasaka Shen Shan mendengar bahwa memuja Avalokitesvara Bodhisattva dan memanjatkan"Sutra Raja Agung" itu manjur. Lalu ia pun memuja sesosok Avalokitevara Bodhisattva dan setiap hari memanjatkan "Sutra Raja Agung".
Setengah tahun kemudian, suatu malam ia bertemu Bodhisattva berkata padanya:
"Kejahatan yang Anda lakukan dalam kehidupan lampau Anda adalah membakar sebuah vihara, hanya karena istri Anda ingin menjadi bhiksuni, sekali Anda marah, Anda lampiaskan kemarahan Anda pada vihara, makanya Anda mengalami pembalasan karma ini!"
"Bagaimana mengatasinya?"
Bodhisattva berkata:
"Carilah manusia berkepala macan! Beliau adalah bhiksu suci abad sekarang."
Upasaka Shen Shan tidak tahu siapa manusia berkepala macan, belakangan seseorang memberitahunya bahwa manusia berkepala macan adalah orang yang bermarga "Lu".
Upasaka Shen Shan akhirnya berhasil menemukan saya.
Begitu saya dengar bahwa kasus membakar vihara dan membunuh bhiksu yang dilakukannya termasuk lima perbuatan durhaka. Lantas, bagaimana saya mengatasinya?
Saya sendiri juga bingung, karma kejahatan ini terlalu berat, namun, Bodhisattva malah merekomendasi "manusia berkepala macan", kalau bukan saya yang menolongnya, siapa yang menolongnya?
Kemudian,
Saya minta Upasaka Shen Shan memuja altar "bhiksu tanpa nama" di dalam vihara, malamnya saya pun menjalankan ritual.
Kepala memancarkan tiga sinar, "sinar Buddha", "sinar putih", "sinar roh", menyeberangkan bhiksu tanpa nama ke surga barat. Ritual ini merupakan ritual penyeberangan tertinggi.
Saya mau Upasaka Shen Shan berikrar, asalkan mendengar ada yang membangun vihara, membangun stupa, membuat pratima, memberi persembahan pada Sangha, Upasaka Shen Shan harus menyumbang semuanya secara sukarela.
Upasaka Shen bersedia.
Saya minta Upasaka Shen memanjatkan "Sutra Raja Agung" sebanyak sejuta kali, Upasaka Shen juga setuju.
Upasaka Shen Shan bersarana pada saya dan menerima abhiseka.
Anehnya, semenjak itu, Upasaka Shen Shan tidak mengalami lagi kejadian bhiksu meminta nyawa.
*
Saya minta Upasaka Shen Shan menjalani metode mengumpulkan berkah dan mengikis karma:
1. Bersembah sujud.
2. Memberi persembahan.
3. Bertobat.
4. Berdana secara sukarela.
5. Memohon memutar Dharmacakra.
6. Memohon Buddha menetap di dunia.
7. Penyaluran jasa.
Upasaka Shen Shan melakukannya satu per satu, kemudian mengalami kontak batin, Avalokitesvara Bodhisattva selalu menampakkan diri memberi petunjuknya seputar bersadhana. Sekarang tidak hanya mimpi buruk saja hilang, mimpi baik muncul satu per satu, kesejahteraan dan keberuntungan menghampirinya.
Malah Upasaka Shen Shan pun ingin menjadi bhiksu!
BODHISATTVA TUA ZHAO LU
Zhao Lu bermatapencaharian menjual bakmi di samping jalan.
Suatu kali saya makan bakmi di tempatnya, ia dapat mengenali saya dan berkata:
"Mahaguru, saya adalah siswa Anda, Zhao Lu."
Saya ingat dia, ternyata dia adalah tentara tua di dalam kemiliteran, dia sudah bersarana dan belajar Agama Buddha semasa di kemiliteran, setelah pensiun, ia jual bakmi.
Ia berkata:
"Mahaguru makan bakmi, gratis."
Saya berkata:
"Menyusahkan Anda saja, jangan gratis."
Ia berkata:
"Mahaguru pernah menolong saya, apalah artinya semangkuk bakmi ini, sekalipun Mahaguru setiap hari makan di sini, Mahaguru juga tidak perlu bayar, ini sudah sepantasnya."
"Kapan saya pernah menolong Anda?" tanya saya.
Lalu, Zhao Lu pun menceritakan saya sebuah kejadian unik.
*
Zhao Lu tinggal di dalam lorong kumuh yang terdiri dari sederetan rumah petak yang terbuat dari kayu, tanah, dan batu, bangunan rumahnya sangat kasar.
Dengan kata lain, tembok setiap rumah digunakan bersama. Di dalam ruang yang kecil, disekat lagi menjadi satu ruangan dengan dua kamar, walaupun demikian, itu juga hasil tabungan selama hidup Zhao Lu.
Hampir semua penghuni sederetan rumah itu adalah veteran tua.
Suatu hari, terjadi kebakaran di tetangga barat.
Api cukup besar.
Hampir membakar rumah Zhao Lu, Zhao Lu ketakutan dan memucat, melihat rumah sepanjang hidupnya hampir dilahap si jago merah, semua berubah menjadi hampa.
Ia melontarkan satu kalimat:
"Mahapadmakumara putih, Mahaguru, tolong saya!"
Tiba-tiba dari permukaan tanah berputar seembus angin aneh.
Angin ini dikatakan aneh memang aneh, tiba-tiba berputar, pasir dan bebatuan beterbangan, bahkan manusia pun tidak dapat berdiri tegak.
Angin meniup api. Api pun dihalangi, lalu api dipadamkan. Aneh! Aneh! Angin meniup api, menghambat jalannya api, lalu meniup kencang, api pun padam.
Begitu api padam, angin pun hilang entah ke mana.
Zhao Lu berkata:
"Dalam kejadian ini, bukankah Mahaguru telah menolong saya!"
Saya bertanya:
"Biasanya Anda menekuni sadhana apa?"
Zhao Lu menjawab:
"Setelah saya bersarana, saya hanya baca Sutra Raja Agung, japa mantra hati Mahaguru, biasanya waktu saya tidak banyak, kadang-kadang menyebutkan nama Buddha, memohon terlahir di alam suci. Namun, saya sangat berkonsentrasi baik menyebutkan nama Buddha, menjapa mantra, maupun membaca Sutra."
Saya berkata:
"Benar! Bila Anda berkonsentrasi, Anda pasti akan mengalami kontak batin."
Zhao Lu berkata:
"Terimakasih, Mahaguru!"
Saya menjawab:
"Anda tidak perlu berterimakasih pada saya, berterimakasihlah pada Amitabha Buddha dan Avalokitesvara Bodhisattva!"
*
Avalokitesvara Bodhisattva mempunyai sebuah gatha:
Cahaya bersih tanpa noda.
Dapat menaklukkan musibah angin dan api.
Mentari kebijaksanaan menghancurkan semua kegelapan.
Cahaya terang memancari dunia.
Saya berkata:
Di dalam sadhana Tantra saya, ada cinta kasih, simpati, belas kasih, baik hati, hati mahakaruna. Dapat membebaskan para insan dari dukha, Anda harus yakin dan menerapkannya!
UPASAKA LU SEN
Tak disangka arus sungai sangat dalam, malah sangat deras, seketika Lu Sen terbawa pusaran.
Peristiwa ini terjadi secara tiba-tiba, rekan seperjalanannya sama sekali tidak sempat menolongnya.
Konon, Lu Sen jatuh ke sungai, tidak sempat bereaksi apapun, hanya saja ia langsung japa satu kalimat:
"Om. Guru. Lian Sheng. Siddhi. Hum."
Di dalam kedalaman air.
Ia justru melihat gambar wajah Mahaguru Lu, Mahaguru Lu berkata padanya:
"Saya datang menyelamatkan Anda!"
Lu Sen hanya merasakan sepasang kakinya ditadah seseorang, lalu ia diangkat ke permukaan sungai.
Ia merasakan lagi seseorang mendorongnya dari belakang, mendorongnya ke darat.
Pakaian Lu Sen basah kuyup.
Sepatu Lu Sen berlumuran lumpur.
Ia berdiri di tempat.
Ia masih shock sampai terus-menerus menjapa:
"Om. Guru. Lian Sheng. Siddhi. Hum.Om. Guru. Lian Sheng. Siddhi. Hum.Om. Guru. Lian Sheng. Siddhi. Hum."
*
Rekannya bergegas datang.
Ia berkata pada rekannya:
"Mahaguru saya ada di dalam sungai!"
Rekannya menjawab:
"Kepalamu sedang pusing."
Ia berkata pada rekannya:
"Mahaguru saya menadah kaki saya dengan sepasang tangannya, saya bagaikan terbang ke darat!"
Rekannya berkata:
"Omong kosong!"
Namun, rekannya juga tidak habis pikir, Lu Sen sendiri tidak bisa berenang, bagaimana ia bisa mengapung di atas permukaan air!
Rekannya juga tidak habis pikir, jarak antara posisi Lu Sen jatuh dan darat sekitar 500-600 meter, bahkan seteguk air pun tidak terminum, bagaimana ia melakukannya?
*
Di dalam "Sutra Dharmapada" saya membaca:
Demi menyadarkan seorang nelayan, Sang Buddha pernah membuat seseorang berjalan di atas sungai besar, hanya mata kakinya saja yang terendam air! Ia berjalan di permukaan air dari selatan sungai hingga utara sungai, lalu bersembah sujud pada Sang Buddha dan memohon Sang Buddha berceramah Dharma. (daya gaib)
Si nelayan terperanjat:
"Air sungai ini sangat dalam!"
Orang itu berkata:
"Hanya mata kakinya saja yang terendam air!"
Sang Buddha berkata:
"Sadhu! Sadhu! Asalkan Anda percaya dengan teguh, jangankan menyeberangi sungai bermil-mil, bahkan menyeberangi samudera samsara pun Anda bisa."
*
Dalam artikel ini, saya beritahu Anda semua, seseorang yang yakin akan menghasilkan "kekuatan keyakinan".
Upasaka Lu Sen "yakin" terhadap Mahaguru Lu, ketika jatuh ke sungai, ia menjapa mantra hati Mahaguru, sehingga menghasilkan "kekuatan keyakinan", "kekuatan keyakinan" lah yang menyelamatkan jiwa Upasaka Lu Sen.
UPASAKA HUANG XIAN-LONG
Di luar dugaan, ia terkena kanker.
Tumor tumbuh di tenggorokan.
Ketika Upasaka Huang Xian-long rawat inap di rumah sakit, dokter memutuskan untuk mengangkatnya lewat jalan operasi.
Di tengah operasi--
Saat Huang Xian-long sedang tidak sadarkan diri, muncul fenomena "kesadaran roh" meninggalkan "raga", dengan kata lain "fenomena kematian", "kesadaran" telah terpisah dengan "raga".
Saya melihat dua orang berbaju putih (pejabat akhirat), satu di kiri dan satu di kanan, menekan pundaknya, mencengkeram tangan kiri dan tangan kanan, dan menariknya ke bawah, ia terus ditarik menuju neraka yang gelap gulita.
Huang Xian-long sadar bahwa dirinya sedang ditarik oleh "pejabat akhirat" ke tiga alam samsara.
Alam neraka.
Alam setan kelaparan.
Alam hewan.
Pada saat-saat kritis ini, Mahaguru Sheng-yen Lu muncul dalam kondisi sekujur badan bercahaya gemerlapan.
Mahaguru Lu memerintahkan kedua pejabat akhirat untuk mundur.
Lalu "kesadaran roh" Upasaka Huang Xian-long dibawa kembali ke dalam "raga".
*
Setelah Upasaka Huang Xian-long menjalani operasi, ia pun siuman, karena bagian tenggorokan menjalani operasi besar.
Ia sudah tidak dapat bicara.
Namun, ia minta kertas dan pena, lalu menuliskan "fenomena kematian" yang dialaminya, ia berkata:
"Mahaguru Lu, menampakkan diri dan menolongnya."
Kejadian ini diketahui oleh:
Upasaka Chen Han-dao dan istri.
Kerabat-kerabat Upasaka Huang Xian-long.
Saya berkata pada Upasaka Chen Han-dao:
"Huang Xian-long dan saya saling kenal, ia adalah siswa saya, saya pernah menjalani ritual Tantra untuk memberkati operasinya!"
Saya berkata:
"Saya belum tentu dapat menyelamatkan nyawa Upasaka Huang Xian-long, karena dari awal, sel kankernya telah merambat hingga ke setiap bagian tubuhnya. Namun, ia adalah siswa saya, saya bisa menjamin ia tidak akan masuk ke tiga alam samsara."
Saya berkata:
"Ia bisa naik ke surga!"
*
Seseorang bertanya pada saya:
"Apa yang terjadi? Mengapa Mahaguru Lu bisa muncul di akhirat menyelamatkan para insan?"
Saya berkata:
"Di alam mana pun ada saya. Saya ada di angkasa, di alam suci Buddhaloka, di Arupadhatu, di Rupadhatu, di Karmadhatu, di alam asura, bahkan di tiga alam samsara."
"Mengapa bisa begitu?"
Di dalam "Sutra Acintya" dikatakan:
"Tempat yang dicapai oleh kebijaksanaan Buddha, di situ ada nirmanakaya Buddha, di situ ada terang Buddha. Tempat yang dipancari oleh terang Buddha, di situ ada suara Buddha, suara Buddha ada di mana-mana, sama halnya dengan mahamaitri dan mahakaruna Buddha ada di mana-mana."
"Sutra Acintya" menyebutkan:
"Seketika, kebijaksanaan terdapat di mana-mana. Siapa yang memikirkan Buddha, Buddha pun ada di sisinya."
Begitu Huang Xian-long memikirkan saya, saya pun menampakkan diri!
"Satu pikiran" adalah rahasia langit!
UPASAKA GUAN YUAN-SHENG
Ketika saya menyepi dan bertapa, Upasaka Guan tiba-tiba menemukan pada tubuhnya tumbuh benjolan, sangat tidak nyaman dan sakit.
Ia sadar ada yang tidak beres!
Ia lebih dulu melakukan biopsy di rumah sakit dari University of Washington.
Dokter berkata:
"Positif tumor ganas, harus diangkat lewat operasi!"
Begitu Upasaka Guan mendengarnya, ia langsung lemas, lagipula Mahaguru Lu sudah menyepi, ia merasa lebih baik ia memohon pada "Zhenfo Miyuan" selembar Fu, begitu diminum, malamnya ia bermimpi:
"Ia bermimpi dirinya lari keluar rumah sambil menjinjing dua kontong sampah yang berisi benda-benda kotor untuk dibuang di luar."
(Arti dari mimpi ini adalah benda kotor di dalam tubuhnya telah dibersihkan sebagian.)
Ia sangat panik, scan lagi.
Dokter berkata:
"Jadi agak kecil, tapi, benjolan yang tidak baik masih ada, sebaiknya tetap diangkat."
Dokter berkata, cara mengeluarkannya ada dua:
1. Sedot benjolan dengan jarum suntik yang agak besar hingga bersih.
2. Lubangi seperti lubang pensil, kemudian diangkat.
Pada hari operasi.
Upasaka Guan Yuan-sheng panik dan sedih, lalu meneteskan air mata.
Dokter memutuskan untuk menyedotnya dengan jarum suntik, lalu daerah di sekitar benjolan dibius
Upasaka Guan tiba-tiba teringat Mahaguru, lalu kedua tangannya membentuk mudra "Padmakumara", mulutnya mati-matian menjapa mantra:
"Om. Guru. Lian Sheng. Siddhi. Hum." .............
Dokter tiba-tiba membelalakkan mata lebar-lebar, dokter menatap asistennya, lalu menatap monitor komputer.
Dokter berkata pada asistennya:
"Benjolan hilang, tidak ada apa-apa, tidak ada apa-apa!"
Dokter menoleh dan berujar pada Upasaka Guan Yuan-sheng:
"Kau... kau... kau barusan baca mantra apa, apapun yang Anda baca, benjolan Anda tiba-tiba hilang, benar-benar hilang, lenyap, terbang!"
Dokter membalikkan badan dan beranjak pergi.
Asisten-asistennya terpaku di tempat.
Tak lama kemudian seorang perawat bergegas lari ke dalam ruang operasi, ia terus menatap Upasaka Guan Yuan-sheng.
Perawat berkata:
"Saya mau melihat siapa Anda, mengapa mulut komat-kamit, benjolan malah hilang, kog di dunia ini bisa ada kejadian seberuntung ini!"
Seluruh dokter dan perawat rumah sakit heboh dengan peristiwa ini.
Belakangan, Upasaka Guan Yuan-sheng berkata pada saya:
"Terima kasih, Mahaguru!"
Saya menjawab:
"Tidak usah berterimakasih pada saya! Berterimakasihlah pada ketulusan Anda!"
*
Saya beritahu Anda semua, siapapun yang menjapa mantra hati "Padmakumara" ini akan memperoleh berkah duniawi, tidak hanya itu saja, juga bisa memperoleh kebijaksanaan duniawi, semoga umat se-Dharma menjapa dengan tulus dan hormat.
Kontak batin dari mantra ini, sungguh terlalu banyak, beberapa buku pun tidak habis mencatatnya!
AKSI LU HONG
Makanya saya tahu, Lu Hong adalah inkarnasi dari "Kulapati Buddhagiri" (Gunung Buddha).
Ia punya sebuah kebiasaan.
Jika kita memberikannya semangkuk bakmi yang dicampur daging cincang.
Ia akan mengeluarkan dagingnya dan hanya makan bakminya.
Ia tidak makan daging.
*
Ketika usia 4 tahun, ia sudah fasih berbahasa Inggris. Bahkan ada tata bahasanya. Kami berdialog dalam bahasa Inggris.
Suatu hari, ia berkata pada saya:
"Kakek, ayo bertemu Buddha!"
Saya ikut dengannya.
Lu Hong menuju kursi sofa di ruang tamu rumahnya, lalu naik ke kursi sofa dan bermeditasi, kedua kakinya bersila, sepasang tangannya beranjali, sepasang matanya tertutup rapat.
Persis seperti bhiksu tua memasuki samadhi.
Saya sangat tercengang dengan aksinya, "Ayo bertemu Buddha!" adalah kata-kata yang dilontarkannya, memangnya dia Buddha?
Saya bertanya:
"Apakah kau Buddha?"
Ia menjawab:
"Bukan."
Saya bertanya:
"Apakah kau Bodhisattva?"
Ia menjawab:
"Bukan."
Ia membalikkan badan dan turun dari kursi sofa, ia membalikkan badan dan berkata pada saya:
"Pertemuan dengan Buddha selesai."
Kemudian, ia bermain mobil-mobilannya!
Tinggal saya sendirian, terbengong-bengong, terpaku di tempat. Aksi Lu Hong ini mengandung rasa Dharma, layak kita renungkan.
"Ayo bertemu Buddha!" Anda boleh merenungkan, bertemu Buddha apa?
Benar-benar "kesaktian".
*
Saya ingat di Gunung Qianqing, Hangzhou ada seorang Guru Zen Chu Nan, ia lebih dulu bertemu Guru Zen Fu Rong.
Guru Zen Fu Rong berkata padanya:
"Aku bukan gurumu, gurumu adalah Huang Bo di Jiangwai."
Guru Zen Chu Nan pun mengunjungi Guru Zen Huang Bo Xi Yun.
Guru Zen Huang Bo bertanya:
"Bagaimana ketika Ziwei menampakkan wujud tiga alam?"
Guru Zen Chu Nan menjawab:
"Memangnya sekarang ada?"
Guru Zen Huang Bo berkata:
"Saya tidak akan mengatakan ada atau tidak, bagaimana dengan sekarang?"
Guru Zen Chu Nan menjawab:
"Bukan dulu dan bukan sekarang."
Guru Zen Huang Bo berkata:
"Mata Dharma saya sudah ada pada diri Anda!"
......
(Saya merasa "ayo bertemu Buddha" dari Lu Hong, dengan "memangnya sekarang ada?" dari Guru Zen Chu Nan, keduanya mempunyai irama yang berbeda namun fungsinya sama. Saya Sheng-yen Lu dan cucu saya Lu Hong, kami berdua sudah boleh dianggap "bukan dulu dan bukan sekarang")
Ha ha ha!
Aksi Lu Hong--
Begitu kalian melihatnya, bukankah itu kesaktian besar?
BOCAH BERNAMA JIANG LE-SHAN
Ketika orangtuanya sedang lengah, di luar dugaan terjadi suatu kecelakaan, bocah ini jatuh dari balkon lantai 5.
Terdengar teriakan histeris!
Pengelola apartemen bergegas datang!
Orangtuanya terperanjat, buru-buru turun ke lantai dasar!
Tetangga dari awal telah menelepon ambulans.
Tak disangka, Bocah Jiang Le-shan malah membalikkan badan dan berdiri.
Menepuk-nepuk debu tanah yang melekat di badannya.
Di bawah kerumunan orangtuanya, tetangga, dan pengelola, Bocah Jiang Le-shan ini ternyata tidak apa-apa, tidak mengalami cedera sedikit pun.
Oh, Tuhan! Kalau orang biasa yang jatuh dari balkon lantai 5, pasti sudah menjadi daging cincang, darah dan daging berhamburan di mana-mana, jarang ditemukan yang masih hidup.
Namun, Jiang Le-shan tidak apa-apa.
Tidak apa-apa tetap tidak apa-apa.
Semua orang hanya mendesah satu kalimat, "Nasib baik!"
*
Begitu orangtuanya mencari tahu penyebabnya, tahu-tahu, Jiang Le-shan mengatakan bahwa ia melihat guru yang mana orangtuanya membawanya untuk diberkati dengan jamah kepala, muncul dari tengah angkasa dan membopongnya, kemudian pelan-pelan menaruhnya di lantai, setelah itu, guru itu pun terbang lagi ke tengah angkasa dan menghilang.
"Guru yang mana?" desak orang tuanya.
"Yang berbaju merah."
Orang tuanya mengambil sebuah majalah, sekali Jiang Le-shan melihatnya, lantas berkata:
"Itu dia gurunya."
Orang tuanya terperanjat:
"Buddha Hidup Lian Sheng, Sheng-yen Lu! Ternyata Mahaguru Lu."
Tadinya orangtua Jiang Le-shan adalah siswa Mahaguru, setiap hari mereka menekuni "Sadhana Tantra Zhenfo", suka memanjatkan "Sutra Raja Agung Avalokitesvara" dan "Sutra Satya Buddha", serta sering mengikuti upacara Mahaguru Lu.
Kemudian, mereka baru sadar:
"Itu perlindungan Mahaguru Lu!"
*
Ayah Jiang Le-shan bernama Jiang Qing-sheng, ketika pasangan suami istri ini bersarana, walau hanya menerima abhiseka jarak jauh, namun mereka mengalami keajaiban.
Pada pukul 7 pagi tanggal 1 imlek, mereka pun menghadap ke timur.
Menjapa mantra Catur Sarana:
"Namo Gurubei, Namo Buddhaye. Namo Dharmaye. Namo Sengqieye."
"Buddha Hidup Lian Sheng menuntun. Bersarana pada Buddha sejati."
(baca tiga kali, namaskara tiga kali)
Begitu selesai baca dan namaskara masing-masing 3 kali, seekor burung ajaib 7 warna terbang menghampiri dari tengah angkasa, burung yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, berkicau dan bernyanyi di hadapan pasangan suami istri ini.
Menurut penuturan mereka:
"Burung ini menyanyikan Om. Guru. Lian Sheng. Siddhi. Hum."
Setelah menjapa beberapa saat, burung ini baru terbang pergi.
Pak Jiang Qing-sheng dan istri terbengong-bengong melihatnya, burung tujuh warna itu hanya pernah mereka lihat sekali seumur hidup.
Kini peristiwa Jiang Le-shan yang diselamatkan setelah jatuh dari gedung, mendapat decak kagum dari banyak orang.
"Ratna-gotra-vibhago" menyebutkan: "Buddha memiliki mahamaitri dan mahakaruna, tidak pernah berhenti memberikan kebaikan dan manfaat kepada para insan; menuruti keinginan para insan, mengabulkan harapan para insan, serta menjelma tanpa batas kapan pun dan di mana pun."
UPASIKA SUN AI-ZHEN
Upasika Sun serius menekuni "Sadhana Tantra Zhenfo", setiap hari tekun beribadah, sangat tekun selama enam waktu.
Upasika Sun baik hati, pendiam, cermat, dan memberi persembahan demi Dharma, namun sangat aktif dan antusias, ia orang yang tidak suka unjuk gigi, hanya bekerja secara diam-diam.
Selama Upasika Sun bersadhana, sepengetahuan saya, Bodhisattva menampakkan diri dengan mengenakan perhiasan berharga dan memancarkan cahaya terang yang langka, lalu masuk ke dalam tubuh Sun Ai-zhen.
Sejak itu, Sun Ai-zhen mencapai kontak yoga dengan Avalokitesvara Bodhisattva.
Upasika Sun Ai-zhen dapat melihat:
"Cahaya bindu".
"Rantai Vajra".
"Layar Vajra".
"Para Arya".
"Alam suci Buddhaloka".
Namun ia merahasiakan dan tidak menyebarluaskannya.
Begitu ia beranjali, jari-jarinya otomatis membentuk mudra yang indah. Tanpa perlu dituntun oleh orang lain, tangannya membentuk bermacam-macam mudra tanpa nama satu per satu.
Begitu ia menjapa nama Buddha, mantra, dan Sutra, di dalam hatinya muncul cahaya dengan sendirinya, lama sekali baru akan menghilang.
Ia sendiri bisa memancarkan cahaya, mandala bisa memancarkan cahaya, rumahnya juga memancarkan cahaya, segalanya menjadi "Dunia Samanthavidya".
Sepasang tangan Sun Ai-zhen bisa menyembuhkan penyakit, ia mulai dari anggota keluarganya, pasien di hadapannya, ia otomatis membentuk mudra dan menyentuh tubuh pasien dengan mudranya. Setelah itu, penyakit pun sirna dengan sendirinya. Banyak mujizat telah terjadi.
Kontak yoga yang dicapai Upasika Sun Ai-zhen dengan Avalokitesvara Bodhisattva bukan tanpa alasan, ia fokus dalam waktu yang lama, tekun melatih "Sadhana Tantra Zhenfo", memperoleh sukacita dan pemahaman.
Bodhisattva mulia dan cemerlang.
Upasika Sun Ai-zhen mulia dan cemerlang, daya gaibnya sedari awal telah melampaui sebagian Lama dan Acarya.
Hanya saja:
Ia tidak ingin unjuk gigi.
Ia hanya tekun bersadhana secara diam-diam saja.
Saya mengkonfirmasikan:
Upasika Sun dapat langsung tiba di alam suci Buddhaloka.
Saya berkata:
"Anda memang sangat berjodoh dengan Avalokitesvara Bodhisattva, bisa menjelmakan Bodhisattva pada diri Anda, seluruh kisah Anda dapat ditulis menjadi sebuah buku, disebarluaskan untuk generasi mendatang, agar orang yang memberi persembahan dan membacanya, memperoleh berkah dan kebijaksanaan."
Nama Dharma Upasika Sun Ai-zhen adalah "Lian Wei", dialah penulis:
"Kumpulan Angin Sejuk dan Bulan Purnama".
Dulu, majalah "Kreasi" Taiwan, pernah memuat novelnya secara bersambung, ia pun pernah menerbitkan sebuah kumpulan cerpen.
*
Terus terang saya katakan pada Anda semua:
Ia adalah Tantrika.
Ia telah mencapai kontak yoga.
Ia memiliki daya gaib.
Tubuhnya memiliki sarira.
Ia memutuskan terlahir di alam suci Buddhaloka "Mahapadminiloka".
Di antara para sadhaka Zhenfo Zong yang menekuni "Sadhana Tantra Zhenfo", yang mencapai kontak yoga ada di mana-mana, namun, Upasika Sun Ai-zhen ini selalu bersembunyi di belakang layar.
UPASAKA WU ZHANG-ZHEN
Upasaka Wu sendiri tadinya tidak ingin membuka dan membaca, namun rasa penasarannya membuatnya tahan, lalu membacanya.
Di dalamnya tercatat:
Mudra akar Cundi Bhagawati.
Cara visualisasi Cundi Bhagawati.
Mantra Cundi Bhagawati:
"Namo Saduonan. Sanmiaosanputuo. Jizhinan. Daniyeta. Om. Zheli. Zhuli. Zunti. Suoha."
Tatacara penjapaan Cundi Bhagawati.
Upasaka Wu Zhang-zhen senang sekali, kemudian ia mulai menjapa mantra Cundi Bhagawati.
Dengan adanya jodoh ini, ia pun pergi ke toko alat sembahyang, lalu bertemu sesosok pratima Cundi Bhagawati yang tampak sangat agung, terbuat dari keramik, tanpa berpikir panjang, ia pun mengundangnya ke rumah.
Upasaka Wu Zhang-zhen setiap hari menjapa mantra Cundi Bhagawati di hadapan Cundi Bhagawati.
Ia sudah menjapa seperti itu selama setahun lebih.
Suatu malam, Upasaka Wu bermimpi Cundi Bhagawati menampakkan diri dan berkata padanya, "Lebih baik Anda lekas memohon abhiseka."
"Kepada siapa saya harus memohon abhiseka?"
"Buddha Hidup Lian Sheng, Sheng-yen Lu".
"Siapa Beliau?" Wu Zhang-zhen sudah lama mendengar nama saya, namun semua yang didengarnya adalah isu negatif.
Cundi Bhagawati tidak mengatakan apa-apa, seakan-akan mengerti pikiran Upasaka Wu, Cundi Bhagawati pun menampakkan wujud Mahacundi, sekujur tubuh-Nya bercahaya putih yang terang sekali, tangan Cundi Bhagawati mengeluarkan sebuah benda seperti bulan purnama, cahayanya memancar ke mana-mana dan bersih tiada tara.
Cundi Bhagawati memberikan isyarat.
Akhirnya, Cundi Bhagawai berkata:
"Jangan ragu! Jangan ragu!"
Sebelum Cundi Bhagawati menghilang, Beliau khusus menambahkan, "Dua hari lagi, Anda akan bertemu dengannya."
*
Upasaka Wu Zhang-zhen bekerja sebagai resepsionis sebuah hotel besar, yang paling menakjubkan adalah, benar-benar dua hari kemudian, saya menginap di hotel besar itu, Upasaka Wu Zhang-zhen lah yang mendaftarkan nama saya.
Upasaka Wu memberitahu saya kejadian ini, lalu memohon saya memberikannya abhiseka Sadhana Cundi Bhagawati.
Saya setuju.
Upasaka Wu bertanya pada saya:
"Apa benda yang seperti bulan purnama yang bersih dan terang itu?"
Saya menjawabnya dengan gatha:
Pada dasarnya dunia ini bebas masalah.
Mendengarnya mengganggu telinga manusia.
Jika kita masih belum kehilangan hati nurani.
Kita akan benar-benar memahami.
Upasaka Wu Zhang-zhen bersarana dan diabhiseka saat itu juga, bahkan sekeluarganya pun datang bersarana dan diabhiseka.
Ia berkata pada saya:
"Setia sampai mati."
*
Mahacundi Bhagawati menuntun Upasaka Wu Zhang-zhen datang bersarana dan diabhiseka, kejadian ini memang langka, bagaimanapun juga Mahacundi Bhagawati mengenal "Buddha sejati itu siapa? Siapa itu Buddha sejati?" Jika bukan tuntunan Mahacundi Bhagawati, siapa pun tidak dapat membedakan dengan jelas siapa itu Buddha sejati?"
Di dalam Sutra Hevajra dikatakan:
"Dalam kehidupan yang akan datang saya akan menitis menjadi seorang guru yang memberikan kebaikan kepada para insan dalam wujud orang awam."
BERHENTI DAN TIDAK BERHENTI BERHUBUNGAN INTIM
Siswa Yang suka Agama Buddha, memutuskan untuk berhenti berhubungan intim, namun istrinya menentang, jika berhenti berhubungan intim, berarti cerai.
Siswa Yang bertanya pada saya:
"Bagaimana?"
Nyonya Hu suka Agama Buddha, sehingga tidak berhubungan intim lagi dengan suaminya, sang suami sangat kesal, lalu mengadu pada saya.
Pak Hu berkata:
"Belajar Agama Buddha sampai jadi begini, riwayat rumah tangga saya hampir tamat. Mahaguru Lu, Anda harus bertanggungjawab."
Ini bukan persoalan kecil lagi, melainkan persoalan yang sangat besar, bukan persoalan Zhenfo Zong, melainkan persoalan seluruh Agama Buddha.
*
Saya berkata:
Bhiksu pasti berhenti berhubungan intim.
Upasaka dan upasika tidak perlu berhenti berhubungan intim.
(Hanya sebagian kecil yang mengesampingkan)
Ada siswa bertanya:
"Sebagian kecil itu sekecil apa? Mengesampingkan, kurang memperhatikan, bagaimana agar bisa kurang memperhatikan?"
Saya, ".........."
(Ini persoalan baru lagi, ha ha ha!)
*
Hari ini, di dalam artikel singkat ini, terus terang saya katakan pada Anda semua, nafsu pada dasarnya adalah benih tumimbal lahir, nafsu birahi juga demikian, bhiksu yang telah meninggalkan keduniawian tentu harus berhenti.
Bhiksu harus memikirkan:
Dunia ini semu.
Sukha adalah dukha.
Kebahagiaan tertinggi itu sementara.
Usia tua dan kematian segera tiba.
(Kenikmatan birahi bersifat sementara, anitya, dukha, hampa, dan tumimbal lahir)
Begitu bhiksu berpikir demikian, segera meninggalkan keduniawian.
Lebih lanjut:
Upasaka memiliki istri, upasika memiliki suami, berhubungan suami istri memang tidak dapat dihindari. Jarang sekali ditemukan orang yang dapat berhenti berhubungan intim semasa usia muda, usia prima, dan usia setengah baya.
Namun, ketika sepasang suami istri telah lanjut usia.
Dengan sendirinya akan berhenti.
Inilah saatnya untuk mengenal dengan jelas bahwa nafsu birahi itu sementara, nafsu birahi itu semu, usia tua dan kematian segera tiba, lebih baik tekun bersadhana.
Lebih lanjut:
Jika upasaka dan upasika ingin meninggalkan nafsu birahi, mesti dibicarakan baik-baik dengan pasangannya.
Jika kedua pihak setuju, maka tidak menjadi masalah.
Jika salah satu pihak tidak setuju, lebih jangan dipaksa, tunggu sampai tua, maka akan berhenti dengan sendirinya.
*
Jadi, Sadhana Yab-Yum dalam Tantra sangat berguna bagi upasaka dan upasika. Menjadikan "nafsu birahi" sebagai sadhana. Saya uraikan secara singkat:
1. Lebih dulu berhasil dalam "anasrava".
2. Kemudian berhasil dalam "pandangan sunya" (sunyata).
Mengubah sukha menjadi sunya, mengubah sunya menjadi sukha, sehingga memperoleh mahasukha.
Bindu tidak keluar, yang keluar hanya prana, prana memasuki nadi tengah, sehingga memperoleh terang.
Lewat "Samadhi Kamasukha" yang terang, maka diperoleh "prajna", "prajna" ini adalah cahaya terang yang dihasilkan lewat menyaksikan prajna sunya.
Buddhata muncul.
Tathata muncul.
(Membuktikan bahwa rupa dan sunya tidak ada bedanya)


