Citta-sthiti dan Kediaman Batin


Sesungguhnya citta-sthiti dan kediaman batin memiliki arti yang sama, yaitu batin berdiam dengan mantap dan kokoh dalam segala kondisi.
  
Dalam Yogacarabhumi-sastra dikatakan : “Semua yang memperoleh samatha awal, terlebih dahulu mengalami keteraturan pernafasan tubuh, kemudian saat menghasilkan sensasi ringan dan damai , jiwa dan raga akan merasakan ketenteraman yang sangat mendalam. Kemudian dari daya batin tersebut timbulah abhirati ( kebahagiaan luhur ), oleh karena itu batin akan berdiam dengan kokoh dalam kedamaian.”
  
Kondisi yang demikian adalah :

Tubuh merasakan atyanta-sukha ( kebahagiaan unggul ).
Batin membangkitkan abhirati.

  ●

Saya ( Buddha Hidup Lian-sheng Sheng-yen Lu ) memberitahu Anda sekalian, pengalaman ini merupakan realisasi yang nyata, sama sekali bukan sembarangan.

Dalam Bahasa Sansekerta samatha disebut juga samadhi.
Samadhi adalah ‘penghentian’.

Judul saya adalah Citta-sthiti dan Kemantapan Batin, inilah penghentian.

Penekunan citta-sthiti dan kemantapan batin adalah dhyana. Ada tiga metode :

1. Penghentian Dengan Cara Mengikat - batin diikat pada ujung hidung atau pada Dan-tian , supaya batin berdiam.
2. Penghentian nivarayati – mengikuti timbulnya corak batin, kemudian menghentikannya supaya tidak lagi terpencar.
3. Penghentian Melalui Penyadaran – Mengikuti pikiran , memahami bahwa sarva-dharma terlahir dari hetu-pratyaya ( sebab dan kondisi ), tiada berpribadi, hingga batin tidak mengejar sarva-dharma, dikarenakan batin tidak mengejar sarva-dharma maka dengan sendirinya pikiran kacau terhentikan , inilah penghentian pikiran kacau melalui penyadaran akan kesejatian.

  ●

Untuk apa pukulan tongkat dalam aliran Zen ?
Untuk mengajarkan ‘penghentian’.

Untuk apa hardikan dalam aliran Zen ?
Untuk mengajarkan ‘penghentian’.

Untuk apa koan dan pertanyaan dalam aliran Zen ?
Untuk mengajarkan ‘penghentian’.

Ini saya pahami melalui perhatian penuh, sepenuhnya demi ‘Dengan penghentian menyapu bersih pikiran kacau, dengan pengamatan merealisasi kesejatian.’ , realisasi ini merupakan penembusan Prajna, penghentian hingga realisasi kebenaran tak tergoyahkan.

Citta-sthiti dan kediaman batin ini adalah Pintu Sunya, Pintu Tathata, Pintu Asamskrta, Pintu Alaksana, Pintu Dharmata, Pintu Nirvana.

Saat penekunan citta-sthiti mencapai kondisi ekagra, maka akan menjadi :

Terhentinya klesa.
Tersingkirkannya segala noda batin.
Tiada keraguan.
Inilah penghentian sejati.

  ●

Saat citta-sthiti dan kediaman batin :

Saya mengalami, dengan sendirinya prana dalam tubuh semua mengalir pada lokasi citta-sthiti, saya merealisasi keteraturan pernafasan tubuh. Pernafasan tubuh ini adalah prana, dari pergerakan prana menghasilkan energi, prana ini membangkitkan sensasi ringan dan damai.

Ringan dan damai ini merupakan rasa dari samadhi.
  
Bagaimana dengan rasa Dharma ?

Menurut saya adalah ketenteraman nan mendalam, saya pernah menulis buku : ‘Catatan Meditasi’, menerangkan perihal ketika prana mengalir menembusi nadi dapat menghasilkan rasa kebahagiaan absolut, rasa ini merupakan gabungan sensasi maha luas, abadi dan kebahagiaan absolut.

Merupakan kebahagiaan yang halus dan luhur.
  
Rasa Amrta Dharma dari citta-sthiti ini tidak akan dapat dibayangkan oleh orang awam di luaran, hanya dapat dirasakan saat diri sendiri benar-benar mencapai kondisi tersebut, sungguh penuh kebahagiaan , kedamaian dan keagungan.
  
  ●

Saya ingat seorang Guru Leluhur aliran Nyingma, Acarya Norlha pernah mengatakan : “Metode teragung yang paling cepat untuk mencapai Kebuddhaan adalah batin selaras dengan nafas yang dihembuskan, terbang keluar, maka tercapailah Kebuddhaan.”
  
Sesungguhnya Acarya Norlha sedang menyampaikan :
“Kebuddhaan hanya pada acitta.”

Acitta ini mudah untuk diucapkan, namun sangat sukar untuk dipraktekkan, acitta adalah satu tingkatan di atas citta-sthiti , untuk dapat mencapai kediaman batin atas segala kondisi saja sudah sangat sukar, apalagi untuk merealisasi acitta, kondisi acitta berarti telah manunggal dengan Kesadaran Semesta.
  
Bukankan manunggal dengan Kesadaran Semesta berarti adalah Kebuddhaan ?

Berikut merupakan tahapan penekunan dalam Vajrayana Zhenfo Zong :

Citta-sthiti dan kediaman batin.
Pelatihan menjaga dan mendistribusikan Bodhi merah dan putih.
Mensirkulasikan bindu.
Melebur dalam sukha menembusi Tathata Dharmata.
Sambhogakaya Buddha.
Dharmakaya Buddha.  

Inilah kunci utama bhavana saya.

Tidak ada komentar: