Fu Liansheng (Prakata)

Saya menulis buku Fu, ada 2 buku:
1. Ling Xian Fei Hong Fa.
2. Xian Tian Fu Bi.
Fu ini ada sebagian yang diperboleh dari “transmisi suciwan”, ada sebagian berasal dari “transmisi guru”, bahkan ada sebagian “mengalir dari hati sendiri”.
Setelah buku diterbitkan, menciptakan kegemparan.
Banyak orang yang belajar menggambar Fu, orang yang membantu orang dengan Fu juga sangat banyak, juga ada yang menggunakannya untuk melatih Tao dan belajar Buddha.
Banyak orang datang memohon “Abhiseka Menggambar Fu”, apa itu “Abhiseka Menggambar Fu”? Yaitu saya mengambil mopit Fu. Dengan mopit Fu menuliskan dua kata “Le Ling” di tangan pemohon sadhana. Mohon Mahadewi Yaochi memberkati tangan pemohon sadhana. Ini bermakna memberikan kuasa untuk menggambar Fu.
Suatu kali.
Saya melakukan “Abhiseka Menggambar Fu”.
Para siswa berbaris panjang, barangkali ada seribu orang.
Begitu saya menengadah.
Tak disangka di tengah kerumunan, banyak orang baik tua maupun muda, di antaranya ada kakek berumur 80 tahun, nenek berumur 70 tahun, bahkan banyak anak berumur 3 hingga 4 tahun. Saya tertegun!
Saya berkata, “Apakah manula dan anak-anak bisa menggambar Fu? Mengerti menggambar Fu?”
Seorang Acarya di samping berkata, “Mahaguru welas asih, biarkan mereka menjalin jodoh!”
Saya berkata, “Tatacara menggambar Fu sangat rumit, orang yang tidak mengerti tidak boleh menggambar Fu. Menggambar Fu adalah ilmu penyatuan antara dewa dan manusia, bukan sesuatu yang bisa dilakukan orang awam.”
Acarya di samping berkata, “Saya akan mengajari mereka lagi,, mohon Mahaguru Lu berwelas asih!”
Kali itu.
Saya memberikan Abhiseka Menggambar Fu kepada sekawanan kakek dan nenek, anak-anak berusia 3-4 tahun, sekawanan manula lumpuh yang tidak bisa berjalan, bahkan ada yang duduk di kursi roda.
Alhasil.
Malamnya, Yang Arya Jintao turun, cahaya petir dan kilat, delapan kelompok dewa dan naga, lima kelompok dewa sejati turun.
Saya terkejut.
Yang Arya Jintao menghardik saya:
“Welas asih menjadi asal-asalan!”
“Asal-asalan menjadi murahan!”
Yang Arya Jintao mengajari:
“Menggambar Fu adalah menitahkan guntur, mesti orang yang bermoral tinggi, baru mungkin melatihnya, menggambarnya. Kini, Andsa tidak membedakan baik maupun buruk, semua diberikan abhiseka menggambar Fu, Anda seharusnya dijatuhkan hukuman apa?”
Keringat saya bercucuran.
Oh, Tuhan! Saya melanggar hukum langit!
Di sini, saya mengimbau kepada orang yang belajar menggambar Fu, mesti lebih dulu membaca sejenak “Rangkuman Fu” yang saya tulis.
Camkan satu demi satu.
Baru tidak akan melakukan kesalahan.
1. Membersihkan altar untuk menggambar Fu kertas, mopit, tinta, bak tinta, semua bersih.
2. Orang yang menggambar Fu dilarang merokok dan minum minuman keras, berbasuh dan membersihkan diri.
3. Ucapan bersih, perbuatan bersih, dan pikiran bersih.
4. Mempersembahkan pujana.
5. Mengundang dewa.
6. Hati lurus dan tulus.
7. Doa jelas.
8. Penyatuan dewa dan manusia.
Dengan demikian baru menggambar, perhatikan “Fu”, “mantra”, “mudra”, “langkah”.
Semoga “manjur”.
Dharmaraja Liansheng. Sheng-yen Lu
Sheng-yen Lu
17102 NE 40th CT. Redmond, WA 98052 U.S.A.

Tidak ada komentar: