Masa Kanak-kanak yang Tertindas

Sejak lahir saya adalah "pemberontak", begitu lahir sudah "tertindas", oleh karena itu, kalian bisa membayangkan masa kanak-kanak saya.

"Penindasan" berasal dari:
1. Keluarga
2. Sekolah

"Penindasan" dari keluarga, saya tidak ingin bahas lagi, ini karena saya terlahir lebih awal, sehingga saya tidak diakui.

Namun, orang tua saya telah bersarana pada saya, sekarang mereka adalah orang tua yang ramah tamah, masa silam bagaikan mimpi!

Segalanya telah berlalu!

Orang tua saya telah menjadi "kaum pengejar Buddha", mendalami Buddhadharma, memanjatkan Namo Avalokitesvara Bodhisattva.

Sepanjang hidup saya, sangat dramatis, dari "malang" berubah menjadi "mujur", dari "duka" berubah menjadi "suka", dari "penindasan" berubah menjadi "pengabdian".

Saya hormat dan berbakti pada orang tua tanpa mengeluh dan menyesal.

Sesungguhnya, tanpa orang tua, saya juga tidak bisa tumbuh dewasa.

*

Di sekolah saya "ditindas" lebih banyak lagi, berasal dari 2 aspek:

1. Teman sekelas.
2. Guru.

Karena saya paling pendek di seluruh kelas, saya berbaris di barisan paling belakang, saya duduk di bangku terdepan.

Teman sekelas duduk di belakang saya, begitu meregang, kepalan tinjunya pun mendarat di kepala saya.

Saya menoleh menatapnya.

Ia tertawa terkikih-kikih, "Ada apa! Saya hanya meregang saja!"

Saya protes.

Ia berkata, "Ada apa! Mari kita cari tempat untuk berkelahi! Kamu berani?"

Saya menahan emosi dan bungkam, atas dasar apa saya berkelahi dengan orang lain? Saya tidak punya modal, pada zaman itu, saya sedari awal telah mengerti "bersabar".

*

Di sekolah berbuat salah, sudah lupa salah apa.

Pernah guru menghukum kami, dihukum berlutut di depan pintu kelas perempuan, dihukum berlutut satu jam.

Saya ingat waktu itu ada 3 orang murid, harus berlutut di depan pintu kelas perempuan, ini adalah hal yang sangat memalukan.

Hanya saya Sheng-yen Lu yang berlutut.

Kedua teman sekelas saya tidak berlutut, hanya berdiri.

Saya pikir, "Berlutut ya berlutut, saya tidak pernah protes, berlutut untuk diperlihatkan pada seluruh perempuan satu sekolah, ini paling memalukan.

Sebenarnya waktu itu, saya merasa diri sendiri sangat "rendah", sangat "hina", di rumah begitu, di sekolah juga begitu.

Saat itu, saya tidak mengerti:

"Tiada ego".
"Tiada kelahiran".

Namun, sudah "ditindas" hingga tahap "tiada ego", "tiada kelahiran". Ini hanya satu contoh kecil, contoh lainnya, tak terhitung banyaknya.

Saya bersekolah, juga "melawan angin":

SD -- ranking terakhir.
SMP -- tinggal kelas 2 kali. Pindah dan lulus di "SMP III Kota Kaohsiung".
SMA -- ranking pertama.
Perguruan Tinggi -- Chung Cheng Institut Teknologi falkutas geodesi lulusan angkatan ke-28.

Masa kanak-kanak saya "berjalan melawan angin", saya sangat susah bersekoah, SD, SMP, saya tidak suka bersekolah. SMA baru maju pesat.

Permainan masa kanak-kanak ada 3:
1. Karet gelang.
2. Kelereng.
3. Kartu.

Tidak ada komentar: