Lidah Berbisa

Dakini Putih berkata, "Ada semacam orang, kedua lembar bibirnya tidak pernah berhenti bergerak, kata-kata yang diucapkannya, semuanya negatif. Khusus mencelakai orang, bicara ini itu, bicara sana sini, mendatangkan bencana besar."

Dakini Putih berkata, "Menyakiti orang lain lewat ucapan, itulah lidah berbisa. Kelak turun ke tiga alam samsara, menjadi ular berbisa. Orang semacam ini turun ke tiga alam samsara, menjadi makhluk berbisa, sekalipun ia manusia, ia berdebat tanpa henti, malah lidah bercabang dijadikan kesenangan."

Kita sering mendengar orang lain berkata:

Ada orang mampir ke rumah orang, suka menggosipi orang lain.
Ibu-ibu, khusus menggosipi orang lain.
Mengadu domba antar sahabat.
Pisau bermata dua.
Masing-masing mengatakan bahwa dirinyalah yang benar.

Orang semacam ini, punya segudang alasan, sebenarnya semua adalah "alasan miring", menyakiti orang yang tak terhitung.

Sesungguhnya, bencana dari lidah berbisa tidak terbilang kecil, besarnya bisa menyebabkan perang dua negara.
Perang antar klan.
Perang antar bangsa.
Perang antar keluarga.
Perang antar manusia.

Di kalangan agama --

Lidah berbisa dari Devadatta paling hebat, ia menghitung dengan cermat semua kekurangan dalam hidup Sang Buddha, kemudian disebarluaskan dan dibesar-besarkan.

Di dalam Sangha ia bicara sampai ke mana-mana.

Sehingga ia memecah belah Sangha menjadi 2 kelompok, separuh Sangha masih kukuh keyakinannya terhadap Sang Buddha dan mengikuti Sang Buddha.

Separuh lagi percaya apa yang dikatakan Devadatta dan mengikuti Devadatta.

Sangha terpecah.

Ini adalah salah satu dari 10 kerisauan Sang Buddha, kesedihan terbesar Sang Buddha.

Di dalam aliran kita, sudah barang tentu ada orang semacam ini, di dalam aliran kita, ia memancing di air keruh.

Bergosip.

Dari luar adalah murid Zhenfo Zong, sebenarnya mengadu domba umat Zhenfo Zong, orang bijak perhatikan dengan saksama, dengarkan dengan saksama.

Siapa yang sedang memecah belah Sangha?

Siapa yang sedang mengadu domba umat se-Dharma?

Siapa yang sedang membuat lingkaran-lingkaran kecil pribadi?

Jelas sekali.

(Hanya saja Mahaguru selalu menekan kejahatan dan menyebarkan kebaikan, tidak ingin mengutarakannya saja, para umat mengapa tidak buka mata lebar-lebar dan lihatlah!)

*

Dakini Putih berkata, "Ucapkan kata-kata positif."

Dakini Putih berkata, "Diam itu emas. Belajar kurangi bicara, perbanyak melafalkan nama Buddha dan menjapa mantra."

Dakini Putih berkata, "Tahan ucapan."

Saya analisa:

1. Ada orang yang mengadu domba secara terbuka.
2. Ada orang yang mengadu domba secara tak langsung.
3. Ada orang yang mengadu domba secara pribadi lewat bisikan.

Ketiga-tiganya adalah mengadu domba. Sama-sama melanggar karma ucapan, Dharmaduta yang punya kelemahan "lidah berbisa", pasti jatuh ke tiga alam samsara, mengapa tidak mawas diri, "Apakah Anda sendiri lidah berbisa?"

Jika ada.

Lekas bertobat, bersihkan lewat "Metode Mengembalikan Kesalahan".

"Lidah berbisa" semacam ini gampang sekali dilanggar, bahkan masih ada orang yang menjadikan "lidah berbisa" sebagai kesenangan, sifat dan kebiasaan semacam ini jangan sampai ada, mencelakai orang lain sama halnya dengan mencelakai diri sendiri, sangat menakutkan!

Tidak ada komentar: